Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Kasihan, Balita di Ponorogo ini Alami Penyakit Langka, Kulitnya Terlalu Sensitif

Melody Mahmudia tertidur pulas setelah dikipasi ibunya, Puput Meilana Sari. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Seorang balita di Ponorogo menderita penyakit langka. Dimana disekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka, sebab kulitnya yang sangat sensitif. Kini balita yang berjenis kelamin perempuan itu, mendapatkan perawatan di RSUD dr. Harjono Ponorogo.

Balita bernama Melody Mahmudia itu sedang tertidur saat beritajatim.com mengunjunginya di ruangan Delima. Sambil mengipasi sang anak yang terlelap tidur, orangtunya menceritakan kondisi sang anak selama ini. Melody panggilan sang balita tersebut, menderita penyakit yang dianggap langka itu sejak usianya dua hari setelah lahir.

Mengetahui kondisi kulit sang balita yang sangat sensitif saat itu, mereka membawanya ke RSUD dr. Harjono. Setelah dirawat 13 hari, orangtua Melody memutuskan sang anak untuk rawat jalan.

“Menderita kulit sangat sensitif itu sejak dua hari setelah dilahirkan. Dulu pernah dirawat selama 13 hari di rumah sakit ini,” kata Asbi, bapak dari Melody Mahmudia, Sabtu (27/11/2021).

Pulang dari rumah sakit, penyakit itu juga tidak kunjung sembuh. Jika kambuh, seluruh badan sang anak terasa gatal. Tangan Melody pun terus-menerus menggaruk bagian yang gatal tersebut. Alhasil, dari garukan itu menyebabkan luka. Menurut Asbi, hanya bagian rambut saja yang selama ini tidak digaruk oleh sang anak. Hal tersebut terjadi hingga saat ini Melody berumur 2 tahun 3 bulan.

“Biasanya kambuh di malam hari, Melody merasa gatal terus menggaruk-garuk sehingga menyebabkan luka. Luka itu kering, kemudian gatal lagi, begitu terus selama ini,” kata suami dari Puput Meilana Sari itu.

Saking sensitifnya kulit Melody, pernah kulit telapak tangannya mengelupas saat bersentuhan dengan lantai atau benda lain. Makanya, dirinya bersama sang istri harus menjaga ekstra ketat Melody. “Dokter juga tidak memberi informasi sakit anak saya itu apa. Ya bisa dibilang penyakit langka,” ungkapnya.

Selama di rumah, kata Asbi diobati dengan pengobatan herbal dan salep saja. Namun, itu juga tidak memberikan tanda-tanda kesembuhan. Asbi yang seorang buruh tani, terkendala biaya jika berobat ke rumah sakit.

“Pengobatan ini katanya sudah ditanggung oleh Dinsos. Saat ini juga diuruskan untuk mendapatkan Jamkesda. Semoga dengan ikhtiar ini, ada solusi kesembuhan untuk anak saya,” pungkas Asbi sambil matanya berkaca-kaca. (end/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati

Unik dan Lucu, Lomba Sugar Glider di Surabaya

Aryo Seno Bicara Organisasi Sayap PDI Perjuangan