Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Kadis Perpustakaan dan Arsip Lamongan: Duluan Mana Miskin dan Bodoh

Dialog Literasi Inklusi yang digelar di pinggir Sungai Bengawan Solo, Desa Kendal, Kecamatan Babat, Lamongan, Rabu (18/5/2022)

Lamongan (beritajatim.com) – Kepala Dinas (Kadis) Perpustakaan dan Arsip Lamongan Farah Damayanti mengeluarkan pernyataan menarik dalam dialog literasi di pinggir Sungai Bengawan Solo, Rabu (18/5/2022). Yakni, duluan mana miskin dan bodoh.

“Orang bisa bilang ya miskin dulu, karena miskin jadi bodoh akibat tidak bisa sekolah. Tapi ada juga yang berpendapat bodoh dulu, sehingga jadi miskin,” kata Farah Damayanti.

Oleh sebab itu, lanjut Kadis Perpustakaan dan Arsip Lamongan, agama memerintahkan Iqra atau bacalah. Bacalah di sini, menurutnya, menunjukkan membaca yang berarti belajar lebih dulu. Karena membaca tidak peduli miskin atau kaya. Semuanya tetap wajib membaca.

Acara “Dialog Literasi Inklusi” ini merupakan kerjasama Iqra Semesta dengan Dinas Perpus Kabupaten Lamongan yang memilih tempat di Desa Kendal, Kecamatan Babat, Lamongan. Pada sesion sebelumnya, Yusron Aminulloh, Ketua Dewan Pembina Yayasan Iqra Semesta, mengapresiasi Kades Kendal.

“Gerakan literasi yang diawali membaca oleh Pak Kades diterjemahkan langsung dalam bentuk solusi. Yakni melahirkan kawasan bahagia. Di mana area ini menjadi kawasan bermain, membaca, kafe, outbond, serta berkekehidupan sosial dan ekonomi. Ini yang disebut literasi inklusi,” tegas Yusron yang juga CE0 DeDurian Park.

Yusron Aminulloh, Ketua Dewan Pembina Yayasan Iqra Semesta

Yusron mengungkapkan bahwa dirinya sering menyampaikan statemen, gerakan literasi bukan hanya budaya baca tulis atau upacara seremonial. Tapi harus mampu membaca buku, literatur yang menjadi pedoman kehidupan.

“Maka, orang yang paham literasi tidak boleh miskin ilmu, miskin harta, tidak punya pekerjaan dan tidak tidak kreatif. Justru literasi harus mengkayakan diri seseorang. Menaikkan kelas sosialnya, manfaat hidupnya, karena ilmu dan harta yang dimiliki,” tambah penulis 27 judul buku ini.

Sementara Kepala Desa Kendal, Rois menuturkan bahwa pihaknya akan terus mengembangkan gerakan literasi di desanya. “Gol kami seperti kata Pak Yusron, kesejahteraan masyarakat. Area bahagia ini adalah wadah masyarakat berinteraksi sosial dan ekonomi. Kafe kami beda dengan yang lain. No wifi, yes interkasi,” tegasnya. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar