Pendidikan & Kesehatan

Kadarisman: Rawat Budaya dengan Mempertahankan yang Baik

Pamekasan (beritajatim.com) – Kadarisman Sastrodiwirdjo menyampaikan beberapa poin penting untuk menjaga sekaligus merawat budaya Madura, yang dinilai semakin terkikis dengan berbagai jenis budaya modern. Tidak terkecuali dari budaya luar negeri.

Hal itu disampaikan saat memberikan pemaparan seputar Kearifan Lokal Madura dengan tema ‘Menggali Kearifan Lokal Madura’ dalam momentum Pekan Ngaji 5 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Senin (13/1/2020).

“Kebudayaan merupakan keseluruhan pikiran, hasil dan karya manusia yang tidak berakar kepada naluri dan diperoleh melalui hasil belajar. Sementara isi kebudayaan menurut Koentjaraningrat, yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, serta sistem teknologi dan peralatan,” kata Kadarisman Sastrodiwirdjo.

Dari pengertian tersebut, kebudayaan Madura diwujudkan dalam tiga bentuk berbeda. Masing-masing kompleks ide, nilai dan norma, kompleks aktivitas prilaku berpola dalam masyarakat, serta komplek benda hasil karya. “Wujud norma bersifat abstrak dan disebut adat, perilaku masyarakat disebut sistem sosial, dan hasil karya bersifat konkrit dan disebut kebudayaan fisik,” ungkapnya.

“Sementara untuk pembawaan orang Madura itu beragam, di antaranya perseorangan (individual), pemberani, setia, ulet, memiliki jiwa berwirausaha, petualang, religius atau agamis serta pamer,” sambung pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Pamekasan.

Selain itu, pihaknya juga menyampaikan secara gamblang seputar sifat dan prilaku orang Madura yang juga tidak kalah beragam. “Sifat dan prilaku orang Madura itu di antaranya apatis, cenderung ingin menang sendiri, rasa keadilan, tahu diri, diam itu emas, sesuai selera dan santun,” imbuhnya.

“Sifat dan prilaku itu ditandai dengan adanya sejumlah parbhesan (pribahasa) yang bermaksud memberi arahan, teladan dan nasihat yang berisi peringatan, larangan, pencegahan hingga sindiran. Semisal ‘Mon Kerras Paakerres, Abhental Syahadat Asapok Iman tor Apajung Islam hingga pribahasa Nek Kenek Cabbhi Lete’,” jelasnya.

Tidak hanya itu, pribahasa tersebut adakalanya juga dijabarkan dan diaplikasikan dalam berbagai macam prinsip hidup. “Macam-macam ajaran kehidupan bagi warga Madura itu, yakni etos kerja, kerja keras, gotong royong, kerja pakai perhitungan, pergaulan hingga mencari ilmu sepanjang hidup,” sambung Dadang.

Hal tersebut juga dinilai tidak lepas dari ekosistem tanah yang ditempati masyarakat Madura, sperti yang disampaikan Kuntowinaya yang memberikan penilaian memberikan pengaruh pada pemukiman, pola komunikasi sosial, individual hingga masyarakat yang terbuka. “Terbukti dengan kepercayaan yang dianut oleh sebagian warga Madura, yakni etnis yang identik dengan keras dan mudah cabut senjata,” tegasnya.

“Dari itu, langkah kedepan merawat budaya Madura ini harus mempertahankan yang baik dan menerima yang baik dari luar. Salah satunya melalui cara mengembangkan yang baik, redifinisi, reinterlretasi, refungsionalisasi, serta membangun budaya baru,” pungkasnya. [pin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar