Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Kabar Buruk dari Purbalingga Bikin Bupati Jember Keder

Bupati Hendy Siswanto saat menyapa pasien Covid di lokasi isolasi terpusat di Jember beberapa waktu lalu. [foto: Humas Pemkab Jember]

Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan mengevaluasi pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah menengah pertama, menyusul munculnya klaster sekolah di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

“”Sekarang kan (kebijakan pembukaan sekolah) diserahkan kepala daerah. Saya keder juga. Masalah nyawa ini. Kalau tidak hati-hati kan repot,” kata Bupati Hendy Siswanto. “Kami tidak mau ambil risiko. Kalau kena, aduh, ngeri. Langsung banyak. Bahaya. Bubar, (rumah sakit) tidak bisa menampung.”

Ada keinginan dari sekolah-sekolah, terutama swasta, agar pembelajaran tatap muka segera dimulai, karena orang tua siswa tidak mau membayar uang SPP jika masih pembelajaran daring. “Kalau tidak sekolah, tidak membayar,” kata Hendy.

Namun ada pesan dari Menteri Dalam Negeri agar daerah-daerah tetap berhati-hati. Saat ini pembelajaran tatap muka sekolah menengah pertama di Jember hanya berlangsung dua kali dalam sepekan. “Kalau siswa SMA lebih sering,” kata Hendy.

“Sekolah yang belum (menjalani program) vaksin tidak kami izinkan. Untuk (tatap muka) sekolah dasar kami tahan dulu, tidak kami perbolehkan tatap muka. Mungkin pelan-pelan hanya SMA yang buka. Kalau siswa SD kan belum vaksin semua. Siswa SMP baru sebagian,” jelas Hendy.

Hendy mengatakan, baru ada sekitar 20-30 sekolah menengah pertama yang sudah seratus persen menjalani program vaksin siswa dan guru. “Masih ada yang setengah, tiga perempat, ada yang belum. Masih banyak,” katanya.

Evaluasi menyeluruh akan dilakukan dalam waktu dekat. “(Sekolah) yang belum vaksin, akan saya batalkan (pembelajaran tatap mukanya). SMP yang kurang lengkap (program vaksinnya), kami tunda lagi,” kata Hendy.

Hendy terus memantau situasi di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menyusul munculnya ratusan kasus positif Covid-19 setelah sekolah menengah pertama dibuka. “Seminggu lagi kalau di sana masih bertambah, risiko. Mudah-mudahan tidak ada lagi pengumuman tambahan kasus di sana,” katanya.

Menurut Hendy, mending berhati-hati untuk membuka sekolah dan melaksanakan pembelajaran tatap muka. “Daripada kemasukan, aduh. biayanya lebih besar dan risikonya lebih tinggi. Sekarang sudah biasa daring. Daring dulu dilengkapi dulu sampai Desember 2021. Januari baru benar-benar clear,” katanya. [wir/suf]

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar