Pendidikan & Kesehatan

Kabar Baik, Terapi Plasma Convalescent Terbukti Sembuhkan Pasien Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Indonesia telah mengujicoba terapi plasma convalescent, yaitu mengambil plasma atau cairan dalam darah dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh dan disuntikkan kepada pasien yang masih kritis. Pasien Covid-19 akhirnya menjadi sembuh total. Ini kabar gembira di tengah belum adanya obat yang mujarab hingga saat ini.

Kepala BNPB sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo dalam kunjungannya di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (2/6/2020) menyampaikan permohonan bantuan kepada seluruh pasien Covid-19 di Jatim yang telah sembuh agar mau menyumbangkan plasma darahnya kepada pasien yang dirawat di seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 Jawa Timur.

“Hari ini, kami dapat catatan ada 654 orang pasien positif telah sembuh di Jatim (data 31 Mei 2020, sedangkan data 1 Juni 2020 ada 699 orang pasien sembuh). Kami imbau yang sembuh ini bersedia menyumbangkan plasma darahnya,” katanya.

Selain itu, dia menyampaikan, plasma convalescent ini merupakan salah satu alternatif yang ditemukan oleh tim dokter Indonesia karena sampai saat ini belum ditemukan obat atau anti virus Covid-19.

“Hari ini juga Bapak Menteri Kesehatan (Terawan Agus Putranto) khusus datang langsung menyerahkan 21 pack plasma convalescent untuk beberapa rumah sakit untuk membantu merawat pasien yang sudah dalam kondisi berat dan sangat berat. Dari beberapa pengalaman sebelumnya, semua pasien yang mendapat terapi plasma convalescent ini, Alhamdulillah sembuh total,” tutur Doni.

“Ini sebuah gagasan dan terobosan yang luar biasa dari Kementerian Kesehatan kita. Kita tidak mungkin menunggu obat yang mujarab untuk diakui secara global yang bisa dijamin untuk mengobati pasien Covid-19. Tetapi, Indonesia selalu berusaha berinovasi untuk bisa menemukan cara bisa mengobati pasien Covid-19 ini,” imbuhnya.

Maka dari itu, lanjut dia, inovasi para ahli ini penting untuk dapat menyembuhkan pasien Covid-19 dengan tepat. Di sisi lain, kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan juga sangat diperlukan untuk memutus mata rantai penyebaran, karena karakteristik virus yang mudah menyebar.

Doni berharap, masyarakat agar tidak malu untuk saling mengingatkan kepada warga lain untuk mau menerapkan protokol kesehatan. [tok/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar