Pendidikan & Kesehatan

Jangan Suka Pelesetkan Takbir Menjadi ‘Take Beer’

Jember (beritajatim.com) – Takbir memiliki konteks semangat kesetaraan dan keadilan dalam Islam. Tak selayaknya kata ‘takbir’ dipelesetkan menjadi ‘take beer’ sebagaimana ditemui di media sosial beberapa kali.

Abdul Majid, dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, mengatakan, takbir adalah tanda kemenangan. “Jika semangat takbir ini mampu kita hadirkan di kehidupan nyata maka kita akan terhindar dari takabur,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (14/5/2021).

Majid mengajak umat Islam menghadirkan Allah SWT melalui takbir ini saat bekerja, belajar, berdagang, dan saat apapun. “Dengan demikian setiap kegiatan yang kita lakukan akan bernilai ibadah dan menjadikan kita manusia yang senantiasa tasyakur atau selalu bersyukur,” katanya.

Moch. Eksan, Wakil Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasional Demokrat Jawa Timur, mengatakan, takbir memiliki tiga konteks. “Pertama dalam salat. Kedua, zikir setelah salat. Ketiga, dalam perang mu’tah,” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam ini, Sabtu (15/5/2021).

Menurut Eksan, ketiganya ungkapan perasaan umat Islam tentang kebesaran Allah yang melebihi kebesaran yang lain. “Berbagai gelar kebesaran tak jadi penghalang bagi kebesaran Allah. Inilah semangat kesetaraan dan keadilan dalam Islam,” katanya.

“Nilai equality before the law merupakan nilai universal yang diilhami teologi Allah Akbar. Nilai ini tetap relevan sebagai nilai abadi dan azali, sebab stratafikasi sosial akan tetap ada sepanjang sejarah,” kata Eksan.

“Allahu akbar merupakan spirit penghambaan, pelembutan dan perjuangan yang tak pernah lekang oleh waktu. Sepanjangan sejarah, kata ‘Allahu akbar’ mengandung pertolongan Allah dalam berbagai pertempuran,” kata Eksan.

Pekikan ini digunakan Khalid bin Walid, sahabat Nabi Muhammad yang bergelar Saifullah, untuk membangkitkan semangat tiga ribu orang pasukan Nabi Muhammad yang berhadapan dengan 200 ribu pasukan Hiraklius. Pertempuran tak seimbang, dan tiga panglima perang umat Islam gugur, yakni Zaid bin Harisatsah, Jakfar bin Abi Thalib, dan Abdulloh bin Rawahah.

“Kata ‘Allahu akbar’ digunakan Panglima Khalid untuk membangun semangat tempur pasukan muslim dan menimbulkan ketakutan di hati pasukan Romawi. Perang yang berlangsung enam hari diwarnai drama perang urat saraf,” kata Eksan.

Pasukan Romawi benar-benar gentar. Pasukan Islam memang akhirnya terpaksa mundur ke Madinah. Namun, Romawi memilih membiarkan dan tak mengejarnya. Heraklius khawatir itu strategi jebakan. “Perang itu menelan korban 12 syuhada dan korban dari musuh jauh lebih banyak,” kata Eksan.

Sejarah perjuangan bangsa juga menunjukkan besarnya peran takbir. Bung Tomo menyuntikkan semangat kepada para pejuang dalam perang kota 10 Nopember 1945 di Surabaya dengan memekikkan ‘Allahu Akbar’ berkali-kali. “Kata ‘Allahu akbar’ yang membuat Surabaya jadi Kota Pahlawan. Banyak yang rela berkorban nyawa demi mempertahankan kemerdekaan. Merdeka atau mati,” kata Eksan.

“Oleh karena itu, kalimat takbir jangan dibuat main-main, apalagi dipelesetkan menjadi ‘take beer’. Sungguh bentuk pelecehan terhadap kalimat suci yang telah menjadi santiaji para pahlawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tanpa kalimat tersebut, Indonesia tak bakal ada,” kata Eksan.

Menurut Eksan, pelesetan ‘take beer’ merupakan peringatan soal kondisi generasi muda yang terjangkit narkotika dan zat adiktif. “Bangsa ini di ambang kehancuran bila generasi muda bergantung pada alkoholisme dan narkobaisme. Mereka bisa menjadi generasi yang hilang,” katanya.

Eksan mengingatkan, jumlah mereka lumayan besar. “Setiap hari tak kurang dari 50 orang meninggal lantaran overdosis. Bahaya, benar-benar bahaya. Indonesia membutuhkan generasi min ahlil bir (ahli kebaikan) bukan min ahlil beer (ahli tenggak alkohol),” katanya tegas. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar