Pendidikan & Kesehatan

Simposium di FK UNAIR

Jangan Anggap Remeh Cedera Atlet Muda

Dr Andre saat diwawancarai setelah acara workshop Sport Clinic

Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) hari ini menggelar Symphosium dan Workshop Pusat Penanganan dan Pelayanan Sport Clinic RSUD Dr. Soetomo, Jumat (30/8/2019) di Aula FK UNAIR.

Acara ini merupakan acara ketiga yang diselenggarakan secara nasional dalam 10 tahun Sport Clinic berkiprah, yakni dengan Tema: The 3rd National Sport Science Meeting: 10-Years Experience In Comprehensive Management Of Sport Clinic.

Andre Triadi Desnantyo, dr Sp OT K, selaku Pimpinan Sport Clinic RSUD Dr Soetomo mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan olahraga sebagai life style dan peningkatan tuntutan prestasi pada atlet. Selain itu juga untuk meningkatkan ruang preventif dalam menanggulangi cedera olahraga makin banyak terjadi.

Cedera olahraga akan berpengaruh terhadap fungsi kebugaran dan melaksanakan aktivitas sehari-hari, dan untuk atlet akan mempengaruhi performance olahraga yang berakibat pada kegagalan mencapai prestasi.

Oleh karena itu, dr Andre mengatakan bahwa kehadiran Sport Clinic dibutuhkan sebagai support sistem atas performa atlet-atlet mudu yang potensial.

“Sekitar 40 persen atlet muda telah mengalami cedera bahkan sebelum benar-benar menjadi atlet profesional. Dan sayangnya cedera-cedera itu biasanya dianggap remeh. Padahal hal seperti itu yang nantinya bisa saja menjadi penghalang atlet muda potensial tersebut meraih prestasi terbaiknya,” ujar dr Andre.

Cedera pada atlet bisa saja menyebabkan pensiun dini atau bahkan di sekenario terburuk, atlet muda tersebut tidak dapat mengeluarkan performa terbaiknya dalam pertandingan kelas profesional.

“Jangan sampai, atlet-atlet yang harusnya bisa jadi bintang dan meraih emas berturut-turut menjadi tenggelam karena cedera yang tidak ditangani dengan baik. Kita akan kehilangan atlet potensial,” tambahnya.

Cedera olahraga tersebut dapat terjadi karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah faktor dari atlet sendiri yaitu usia, jenis kelamin, komposisi tubuh, status gizi, kebugaran, anatomi, skill, dan kondisi psikologis.

Faktor ekstrinsik merupakan faktor di luar atlet yang meliputi jenis latihan, lawan bermain, perlengkapan olahraga, lingkungan, serta pola permainan. Usaha untuk menurunkan kejadian cedera olahraga dan penanganannya dilakukan dengan usaha promotif dan preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Sejalan dengan itu, Sport Clinic dirasa perlu melakukan peningkatan pemahaman dari berbagai elemen, mulai dari atlet, pelatih, manajer klub, tenaga medis, tenaga paramedis, pengambil keputusan dilapangan, dan penentu kebijakan di tingkat pusat.

Sport Clinic berperan dalam penanganan komprehensif cedera olahraga, yang melibatkan aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara multidisiplin (Fisiologi, Orthopaedi & Traumatologi, Radiologi, Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Tim Rehabilitasi, Gizi, Psikologi) dan multisektoral (Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, UNESA, KONI) sebagai pengembangan sport science yang berdampak daya ungkit pada peningkatan performance atlet.

“Jadi kami berperan juga memberikan saran olah raga yang baik dan benar sekaligus yang mampu memberikan akselerasi peningkatan prestasi seperti, kalau olahraga yang banyak menggunakan tangan kita kasih saran, latihan yang seperti apa yang bisa menguatkan otot bisep trisepnya, aturan beban dan timing latiannya bagimana dan lain-lain yang serupa,” tutur Dr Andre.

Ia juga menambahkan, dengan adanya kolaborasi antara Sport Clinic dan Koni, menjadikan prestasi atlet terus meningkat dan cedera parah dapat diminimalisir. Pasalnya saat ini Koni juga rutin melakukan pemeriksaan terhadap atlet di Sport Clinic RSUD Dr Soetomo.

“Sejauh ini, kualitas atlet menjadi lebih baik dan prestasi terus meningkat juga rentang masa emas atlet menjadi lebih panjang karena kesehatan dan kebugaran atlet terus terjaga. Terlebih dari itu kami juga punya tujuan agar ketika mereka pensiun, mereka masih dapat berkontribusi dalam dunia olahraga karena fisik mereka yang tetap bugar dan terjaga,” pungkas dr Andre. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar