Pendidikan & Kesehatan

ITS Bersama Alumni Produksi APD Hazmat Suit

Surabaya (beritajatim.com) – Semakin hari jumlah pasien positif Covid-19 kian bertambah, sehingga membuat para pekerja medis harus bekerja lebih ekstra. Oleh karena itu, mahasiswa bersama alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat Alat Pelindung Diri (APD) berupa Hazmat Suit (baju Hazmat) guna meningkatkan keselamatan kerja para tenaga medis.

Mereka adalah Haniefuddin Rifky (alumnus Teknik Sistem Perkapalan), Nabila Sarita Putri Mahasiswi (mahasiswa Departemen Manajemen Bisnis), dan Royyan Wafi Pujiyanto (mahasiswa Departemen Teknik Elektro). Berawal dari sebuah keprihatinan, ketiganya melihat para pekerja medis harus menggunakan APD yang seadanya. Hal tersebut menjadikan mereka bertekad untuk bisa membantu tenaga medis tersebut.

Haniefuddin Rifky mengatakan bahwa saat ini tenaga medis sangat kekurangan APD. Banyak di antara mereka yang harus menggunakan jas hujan sebagai APD untuk melindungi diri dari penularan virus Covid-19 ini. “Dari sinilah kami mulai mencari referensi tentang APD,” katanya.

Selain membantu para tenaga medis, Hanief sapaan akrabnya, memaparkan bahwa mereka juga ingin mengajak para masyarakat untuk berdonasi. Uang hasil donasi tersebut ditukar dengan APD Hazmat Suit yang akan diberikan kepada para tenaga medis yang membutuhkan. Mereka tidak melayani pembeli yang bertujuan untuk menjual kembali APD Hazmat Suit ini. Sehingga mereka bersatu bersama Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 ITS dalam mewujudkan hal tersebut.

Hanief mengungkapkan bahwa APD Hazmat Suit buatan mereka tidak berbahan dasar polypropylene spunbond seperti APD pada umumnya. Namun APD ini berbahan dasar parasut. Hal tersebut dipilih karena saat ini bahan polypropylene spunbond telah habis di pasaran.

Lelaki asal Kabupaten Bondowoso ini menyampaikan, APD Hazmat Suit buatannya telah mendapat persetujuan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso. Meskipun dengan bahan dasar yang sedikit berbeda, namun dinas kesehatan tersebut memastikan bahwa APD ini telah sesuai dan layak untuk dipakai para pekerja medis. “Karena sudah mendapat izin, jadi kami berani untuk membuat dalam jumlah besar,” ujarnya.

Hanief menyebutkan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso menilai APD Hazmat Suit buatannya lebih baik dibanding dengan APD berbahan polypropylene spunbond. Hal ini dikarenakan APD Hazmat Suit parasut lebih tahan air dibanding dengan APD Hazmat Suit polypropylene spunbond. Namun tentu saja tidak 100 persen tahan air, karena APD Hazmat Suit tetap membutuhkan sirkulasi udara yang masuk.

Lebih lanjut ia mengatakan, APD berbahan parasut ini memiliki keunggulan lain dibanding dengan APD pada umumnya. Salah satunya adalah dapat dipakai hingga lima kali. ‘Pengguna dapat mencuci APD Hazmat Suit ini sampai empat kali cuci,” tuturnya.

Dilihat dari segi harga, menurut Hanief, APD Hazmat Suit buatannya juga dinilai lebih murah. Dengan harga sekitar Rp 148 ribu, pengguna sudah dapat menggunakan APD ini sebanyak lima kali pemakaian. “Lumayan bisa menghemat kurang lebih Rp 77 ribu,” aku Hanief.

Hanief menyebutkan, hingga saat ini kurang lebih 200 APD siap untuk dikirimkan dan sekitar 500 APD dalam pesanan kini pada proses pembuatan. APD Hazmat Suit ini telah berhasil didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya ke Padang, Makassar, Mataram, Jombang, Blitar, dan Surabaya.

Dalam proses pembuatannya, Hanief mengatakan bahwa timnya tidaklah membuat APD Hazmat Suit ini sendiri. Hanief dan tim menggandeng delapan orang penjahit di Kabupaten Bondowoso yang tergabung dalam Lembaga Rumah Cantik Nina. “Kami bekerja sama dengan mereka untuk membuat APD Hazmat Suit ini,” jelasnya.

Aksi yang telah dilakukan Hanief bersama kedua rekannya ini mendapat tanggapan positif dari Wakil Rektor IV ITS Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD. Bambang menilai bahwa hal ini merupakan gerakan luar biasa yang telah dilakukan alumni dan mahasiswa. Empati yang tumbuh dari alumni dan mahasiswa dapat menjadi contoh bagi orang lain. “Dengan hal ini membuktikan bahwa mahasiswa juga dapat berperan dalam pandemi yang sedang dihadapi,” ujarnya bangga.

Bambang melanjutkan, selain membantu tenaga medis, tim ini dinilai juga berhasil membantu meningkatkan bisnis para penjahit setempat. Dengan adanya kerjasama yang terjadi, bisnis para penjahit menjadi tetap hidup di tengah pandemi yang terjadi. “Jika pesanan semakin banyak, tim berencana untuk menambah jumlah penjahit di berbagai daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Hanief berharap agar timnya berhasil mewujudkan tujuan awalnya. Tujuan untuk mengajak orang-orang berdonasi, dan mendistribusikan produk hasil donasi tersebut ke pihak-pihak yang membutuhkan. “Terakhir saya berpesan agar kita semua harus senantiasa bersabar dan tetap semangat,” pungkasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar