Pendidikan & Kesehatan

Inovasi Smarthealth Aplikasi Diagnosis THT Mahasiswa Unusa

Surabaya (beritajatim.com) – Antrian panjang yang sering dialami pasien penyakit THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), mendorong empat mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendesain sebuah aplikasi yang bisa membantu dokter melakukan diagnosis awal. Harapannya input data pasien sebagai diagnosis awal bisa menyingkat waktu tunggu pasien.

Tak hanya diinstal pada smartphone, aplikasi tersebut juga divisualkan dalam sebuah poster ilmiah. Hasilnya dua karya ilmiah  dalam bentuk literatur review dan poster dengan judul yang sama  ‘Quick Respon Mobile (QRM) dengan metode artificial intellegence (AI) membantu dokter dalam mendiagnosis suatu penyakit THT’, berhasil menjuarai  kompetisi nasional Holistic (Halu Oleo Scientific Competition). Mereka adalah Diaz Syafrie Abdillah, Afira Febriani Wijaya, Muhammad Jauhan Farhad, dan Firda Nur Laila.

“Fakultas Kedokteran mengirimkan dua tim dari mahasiswa semester 7. Alhamdulillah kedua tim berhasil meraih juara, masing-masing juara 1 kategori poster ilmiah dengan tim Muhammad Jauhan Farhad, Firda Nur Laila, Diaz Syafrie Abdillah. Dan, juara 3 untuk literatur review dengan tim Diaz Syafrie Abdillah, Afira Febriani Wijaya,” kata Dr Handayani, Dekan FK Unusa sekaligus dosen pembimbing.

Menurut Dr Handayani kemenangan mereka tidak lepas dari tema teknologi yang diaplikasikan dalam bidang kesehatan. “Sebagai universitas bidang kesehatan dan teknologi, Unusa akan terus mengembangkan smarthealth. Penyusunan karya ilmiah ini juga didukung tim sistem informasi,” katanya.

Diaz Syafrie Abdillah, ketua tim karya ilmiah mengatakan metode AI mampu mengefektifkan waktu antara pasien THT dengan dokter. Harapannya bisa  menjadi sarana salah satu teknik komunikasi baru antara dokter dan pasien.

“Dengan aplikasi QRM, pasien bisa melakukan input data tentang gejala yang dideritanya. Sedangkan metode AI yang merupakan kecerdasan buatan, mampu memproses  input data pasien menjadi diagnosis awal gejala THT. Yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai penatalaksanaan awal untuk membantu dokter dalam pemeriksaan,” katanya saat jumpa pers di lantai 8 Tower Unusa Kampus B Jemursari Surabaya.

Diakui Diaz ide karya ilmiahnya tersebut masih akan terus dikembangkan, seperti fasilitas chat dengan pasien sebagai sarana komunikasi langsung. Fasilitas chat ini perlu admin yang juga memahami masalah kesehatan.

Ide diagnosis awal THT untuk membantu dosen ini juga diikutkan dalam lomba poster publik. Tujuannya agar pasien lebih memahami prosedur aplikasi QRM tersebut.

“Karena temanya poster ilmiah, kami desain lebih sederhana namun tetap informatif,” kata  Muhammad Jauhan Farhad, ketua tim poster ilmiah.(ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar