Pendidikan & Kesehatan

Inilah Wisudawan ke-122 Tertua dan Termuda ITS

Surabaya (beritajatim.com) – Insitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) akan mengadakan Prosesi Wisuda ke-122 secara daring yang dilakukan sebanyak 3 sesi, dimulai pada Sabtu (17/10/2020).

Menariknya dalam wisuda tersebut ITS memiliki 2 orang wisudawan yang unik, yakni Haryanto yang berhasil menuntaskan studi doktoralnya (S3) di Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di usia yang mencapai 60 tahun 11 bulan dan Muhammad Dimas Nugraha Aryatama berhasil lulus pada usia yang baru mencapai 19 tahun 7 bulan.

Haryanto ini dinobatkan sebagai wisudawan tertua pada Wisuda ITS ke-122 sesi satu mendatang. Har mengungkapkan bahwa motivasinya dalam menuntut ilmu hingga ke tahap ini bermula dari hobinya dalam belajar.

Sejak menempuh program sarjana (S1) di Departemen Fisika ITS, lelaki berkacamata ini sudah menunjukkan antusiasme lebih dalam menimba ilmu. Hal ini ia buktikan dari banyaknya waktu senggang yang dimanfaatkan untuk membaca buku. “Jadi sejak dulu saya gemar mendalami teori yang didapat ketika kuliah,” tutur lelaki asal Mataram ini.

Dalam hidupnya, Har berprinsip bahwa belajar itu harus terus dilakukan sepanjang hayat. Tidak sekadar belajar, namun juga mengerjakannya dengan hati ikhlas dan riang gembira. Meskipun harus menggelontorkan uang demi melanjutkan studi, ia menganggap bahwa ini adalah bagian dari investasi untuk dirinya. “Memang tidak mudah mencapai gelar tersebut, tetapi saya mendapatkan banyak manfaat darinya,” ujar dosen Teknik Industri Universitas Surabaya (Ubaya) ini.

Har menceritakan, perjalanan kuliahnya dalam rentang waktu 20 tahun ini menyadarkannya atas dinamika yang dihadapi mahasiswa di setiap zaman. “Saya juga jadi merasakan nuansa perkuliahan daring di kala pandemi,” imbuhnya.

Sedangkan Kisah wisudawan termuda yang akrab disapa Dimas ini diawali saat masuk sekolah dasar (SD) di umur yang lebih muda dari anak-anak pada umumnya, yakni 5 tahun dan dari SD-SMA ia berhasil melakukan program akselerasi. Sehingga ia pun langsung melenggang ke jenjang perkuliahan saat umurnya juga masih belia, yakni 15 tahun.

Mahasiswa yang sedari dulu memiliki passion mengotak-atik komputer ini melabuhkan pilihannya pada Departemen Teknik Komputer ITS. Kesukaan itulah yang mengantarkannya memilih topik Tugas Akhir (TA) yang berjudul Pendeteksian Pneumothorax Pada Citra X-Ray Menggunakan Convolutional Neural Network. Pada penelitiannya, Dimas menggunakan sistem deep learning untuk dapat mendeteksi kondisi pneumothorax pada gambar x-ray pasien. Ia lebih berfokus membandingkan tingkat keakuratan dari berbagai model arsitektur deep learning.

Selama empat tahun masa kuliahnya, Dimas tidak membatasi wadah tempat ia belajar. Masih linear dengan bidang yang ia dalami, Dimas juga aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotika. Di sana ia mengaku mendapat banyak pelatihan terkait Internet of Things (IoT) hingga deep learning. Berbagai pengalamannya itu mengantarkannya meraih juara tiga pada ASEAN MATE Underwater Robot Competition 2017 lalu.

Banyak hal-hal tidak terduga yang dialami mahasiswa yang juga menjadi bagian dari Laboratorium Komputasi dan Multimedia ini. Karena wajahnya yang masih tampak sangat muda, ia sampai dikira masih mahasiswa baru oleh adik tingkatnya saat Dimas sudah berada di tahun ketiga perkuliahannya. “Bahkan sampai foto bersama mengabadikan momen sebagai mahasiswa baru, padahal saya sudah mau lulus,” ujarnya mengenang hal yang lucu tersebut.

Selain kisah unik nan menggelitik, sulung dari dua bersaudara ini juga pernah merasakan kepenatan menjalani hari-hari yang penuh tugas. Baginya, salah satu caranya menaikkan mood kembali adalah dengan melakoni hobinya yang cukup unik. Yakni membaca buku sejarah dunia, biografi tokoh dunia, hingga mengikuti perkembangan militer dunia.

Meski melewati masa kuliah di umur yang terbilang sangat belia ini tidak mudah, Dimas tidak pernah sekalipun merasa putus asa. Motto hidupnya yang berbunyi “Coba aja dulu”, membuat Dimas cekatan serta sigap mengambil keputusan semasa perkuliahannya. Dimas sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang juga senantiasa memberi dukungan kepadanya.

Usai menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan meraih IPK 3,17, Dimas berencana untuk melanjutkan studinya ke jenjang Master (S-2). Cita-citanya sendiri di masa mendatang, ia ingin dapat mengaplikasikan ilmunya dengan bekerja di bidang data analyst atau software engineering. [adg/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar