Pendidikan & Kesehatan

Ini Tips Antisipasi Happy Hypoxia Syndrome Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Happy Hypoxia Syndrome merupakan satu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan kadar oksigen tanpa merasa sesak, ngos ngosan, capek, pusing atau mual, yang umumnya terjadi.

Kasus Happy Hypoxia Syndrome ini diduga terjadi karena respon otak yang lambat dalam merespon kadar oksigen yang turun dibandingkan respon batang otak yang lebih cepat merespon kadar karbondioksida yang meningkat. Sehingga dapat menyebabkan kefatalan.

Dr Alfian Nur Rosyif SPp, Juru Bicara Satgas Corona RSUA mengatakan bahwa hal itu hanya dugaan ilmiah atau bersifat hipotesa, dan sampai saat ini masih terus dikaji penyebab utamanya. Ia pun mengatakan meski secara umum hypoxia bisa terjadi pada setiap penyakit yang menyerang sistem pernafasan tetapi hanya pada Covid-19 diketahui bisa terjadi Happy Hypoxia Syndrome.

“Setahu saya sebagai dokter paru, baru kali ini di Covid-19 orang bisa tidak merasakan hipoksia atau terjadi silent hypoxia atau happy hypoxia syndrome,” tukas Dr Alfian kepada┬áberitajatim.com┬áSelasa (25/8/2020).

“Laporan kasus happy hipoksia telah kita dapati sejak awal covid di Surabaya. Kita mengamati pasien yang tidak mengeluh sesak, masih bisa telpon bahkan bermain HP atau menonton youtube namun pemeriksaan objektif menunjukkan telah terjadi hipoksia,” ungkapnya.

Ia menambahkan cukup banyak kasus happy hipoksia yang ditemukan terjadi di rumah sakit termasuk di RSUA. Namun kebanyakan pasien bukan termasuk kelompok yang tanpa gejala yang ditemukan dengan happy hipoksia.

“Hanya sebagian saja kami temukan kasus tanpa gejala yang kita dapati terjadi happy hipoksia. Kefatalan karena happy hypoxia syndrome juga bisa ditekan jika sebelumnya telah dirawat di RS, karena selalu dipantau,” tuturnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya masyarakat untuk menjaga diri dan mematuhi protokol kesehatan, karena Happy Hypoxia Syndrome dapat terjadi pada pasien Covid-19 Tanpa Gejala atau OTG.

Dr Alfian pun memberikan beberapa tips yang bisa diterapkan di rumah untuk antisipasi, yakni Pasien OTG perlu melakukan pemeriksaan frekuensi pernapasan dalam satu menit, nilai saturasi tidak boleh melebihi 20-30 hembusan nafas atau bahkan lebih dalam satu menit.

Tes yang lain adalah mengukur kadar oksigen perifer dari ujung jari menggunakan alat saturasi oksigen yang dapat dilakukan di rumah sakit atau di rumah masing-masing.

“Penurunan kadar Saturasi kurang dari 90%, menunjukkan telah terjadinya hipoksia. Tanda ini adalah indicator pasien harus ke rumah sakit untuk mendapatkan bantuan oksigenasi,” pungkasnya.[adg/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar