Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Ini Pesan Bunda Lily Kepada Santri dan Mahasiswa INSUD Paciran Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Para santri saat ini merupakan aset bangsa masa depan, khususnya pada tahun 2045 yang mana negara Indonesia memiliki cita-cita Indonesia emas, sehingga perlunya para santri dan pesantren menyambut baik akan hal tersebut.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Adik kandung Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj Lily Chodijah Wahid saat memberikan pemaparan dalam kegiatan Dialog Interaktif bertajuk ‘Mahasantri Tangguh Siap Menyongsong Indonesia Emas 2045’, bersama santri dan mahasiswa Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Paciran Lamongan, Selasa (9/11/2021).

“Bonus demografi yang diperkirakan muncul pada kisaran tahun tersebut harus disikapi serius oleh para santri dan pesantren. Apalagi saat ini eranya digital, jadi santri harus mengisi era ini, tidak hanya sebagai konsumen, tapi juga sebagai produsen,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunda Lily tersebut di hadapan peserta dialog.

Dalam kegiatan yang digelar di Gedung Pertemuan Pondok Pesantren Sunan Drajat ini, Bunda Lily juga menyampaikan, santri di era saat ini mestinya tidak hanya mencukupkan diri untuk mendalami ilmu agama saja, tapi juga harus merambah bidang keilmuan lainnya seperti teknologi dan internet agar mampu menebar kemanfaatan dan kemaslahatan di berbagai sektor.

“Jika para santri dulu berjuang dengan mengangkat senjata, maka hari ini di tengah bangsa yang sudah merdeka, kontribusi santri dibutuhkan melalui segenap pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Tentu, dengan pengetahuan yang luas itu, kontribusi santri dan pesantren terhadap kemajuan dan kemakmuran negeri ini dapat dilakukan secara lebih,” tambahnya.

Lebih dalam, Bunda Lily menuturkan, bentuk kontribusi santri di bidang teknologi dan internet sangat diperlukan guna menjaga stabilitas bangsa, apalagi mengingat belakangan media sosial banyak diisi oleh kelompok-kelompok radikal.

Bunda Lily menyoroti tentang keberadaan media sosial, berdasarkan data We Are Social (2019), lebih dari setengah penduduk Indonesia, tepatnya 150 juta jiwa, sudah menggunakan internet dan aktif berselancar di media sosial. Sehingga, keaktifan santri di dalamnya menjadi langkah perimbangan bagi segenap masyarakat dalam memilih sajian materi keagamaan.

“Intinya, selain santri kuat akan literatur keagamaannya, juga perlu menambah literatur lainnya, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan zaman. Tentu hal ini harus juga diimbangi dengan kebijakan dari para pemangku kepentingan dan pejabat pemerintah demi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” terangnya.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar