Pendidikan & Kesehatan

Ini Penyebab Tingginya Transmisi Covid ke Dokter

Adib Khumaidi, SpOT - Ketua Tim Mitigasi PB IDI

Surabaya (beritajatim.com) – Per 12 September 2020, jumlah kematian dokter karena Covid-19 di Jawa Timur mencapai 29 angka kematian. Angka kematian di Jatim ini merupakan yang paling tinggi di Indonesia dan mencapai 115 dokter secara nasional.

Data tersebar diberikan langsung oleh Adib Khumaidi, SpOT – Ketua Tim Mitigasi PB IDI yang memimpin pelaksanaan survei.

Dr Adib mengatakan bahwa terpaparnya para dokter bisa terjadi saat menjalankan pelayanan baik itu pelayanan yang langsung menangani pasien Covid di ruang-ruang perawatan (isolasi maupun ICU), atau dari tindakan medis yang ternyata belakangan diketahui kalau pasiennya mengalami Covid, ataupun pelayanan non medis seperti dari keluarga dan komunitas.

Gambaran ini menunjukkan bahwa pekerjaan dokter saat ini memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar Covid disamping juga angka OTG ( asimptomatik carier) yang tinggi.

Terlebih jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Artinya Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Rasio dokter spesialis juga rendah, sebesar 0,13% per 1.000 penduduk. Selain itu, distribusi tenaga medis dan tenaga kesehatan juga terkonsentrasi di Jawa dan kota-kota besar.

Artinya kematian dokter yang saat ini sebanyak 115 dokter dengan asumsi 1 dokter melayani 2500 maka menggambarkan Rakyat Indonesia sebanyak hampir 300 ribu akan kehilangan pelayanan dari dokter, begitu juga dengan meninggalnya dokter gigi dan perawat.

“Apalagi dengan meninggalnya dokter spesialis yang saat ini masih dirasakan kurang di Indonesia. Dokter adalah aset bangsa, investasi untuk menghasilkan dokter dan dokter spesialis sangat mahal. Kehilangan dokter tentunya akan dapat berakibatĀ  menurunnya kualitas pelayanan bagi Rakyat Indonesia,” tambahnya.

Oleh karena itu perlu ketegasan pemerintah untuk membuat langkah-langkah kongkrit dalam upaya perlindungan dan keselamatan bagi para dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Upaya kongkrit melalui pembentukan Komite Nasional Perlindungan dan Keselamatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang bertugas mengintegrasikan seluruh stakeholder kesehatan untuk fokus dalam upaya perlindungan dan keselamatan serta upaya-upaya pengawasan nya .

Kebutuhan dokter tentunya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi organisasi Profesi dan perhimpunan-perhimpunan spesialis untuk tetap dapat menjamin proporsi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Pemerintah juga harus bersikap tegas denganĀ  menindak masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan, diikuti juga para aparat pemerintah juga memberikan contoh dengan melakukan protokol kesehatan dalam aktifitas mereka sehari-hari,” ujarnya

Selain itu, upaya yang perlu dilakukan adalah proteksi di semua layanan dengan penerapan 3T yang lebih tegas lagi: peningkatan upaya preventif dengan penerapan protokol kesehatan dg melibatkan kelompok sosial masyarakat sebagai kontrol menjadi satu prioritas untuk menekan laju penyebaran virus.

“Sedangkan untuk penguatan treatment dilakukan dengan mapping/ pemetaan kemampuan faskes , menata dan meningkatkan kapasitas rawat dengan screening atau penapisan yang ketat terhadap pasien, zonasi di fasilitas kesehatan, serta clustering atau pengkhususan rumah sakit rujukan atau yang menangani Covid),” tegas Adib. [adg/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar