Pendidikan & Kesehatan

Pekan Ngaji 5 Pesantren Bata-Bata

Ini Karakter Orang Madura Versi Zawawi Imron

Pamekasan (beritajatim.com) – Budayawan Madura, D Zawawi Imron dan Kadarisman Sastrodiwirdjo memberikan pemaparan seputar Kearifan Lokal Madura dalam momentum Pekan Ngaji 5 London Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Senin (13/1/2020).

Dalam kegiatan multi event internasional yang mengusung tema ‘Think Global Act Local’, keduanya secara bergantian berbagi wawasan dan pemahaman seputar tema penting ‘Menggali Kearifan Lokal Madura’ yang dipandu langsung oleh Iksan Sahri sebagai moderator.

Mengawali penyampaian materi dalam kegiatan tersebut, D Zawawi Imron memaparkan secara singkat seputar salah satu karakter warga Madura. Sekaligus menjadi ciri khas dari sebagian warga Madura yang lebih dikenal dengan tipekal pantang menyerah.

“Ilmu dan adab merupakan hal penting bagi orang Madura, namun yang paling penting antara ilmu dan adab adalah adab. Itulah karakter orang Madura, kalau tatakramanya baik, semua orang akan suka menjadikannya sebagai menantu,” kata D Zawawi Imron, disambut tawa ribuan hadirin.

Tidak hanya itu budayawan yang mendapat julukan Si Celurit Emas, juga menegaskan jika budaya Madura menjadi modal sosial positif membangun peradaban. “Budaya Madura itu merupakan mod sosial untuk membangun peradaban di masa yang akan datang,” tegasnya.

Sementara pemateri lainnya, Kadarisman Sastrodwirdjo mengupas persoalan budaya Madura dari aspek akademik. Termasuk hasil penelitian dari sejumlah peneliti terhadap sosio kultur Madura, seperti yang disampaikan Kuncoroningrat maupun peneliti lainnya.

Bahkan pihaknya juga meluruskan seputar stigma negatif yang disandarkan bagi warga Madura, seperti carok hingga berbagai tindak kekerasan lainnya. “Prinsipnya, budaya Madura itu sangat sangat baik dan halus. Jadi tidak seperti yang disematkan banyak orang yang dikenal keras,” ungkapnya.

“Kita ambil contoh, misalnya Madura diidentikkan dengan kekerasan semisal carok dan lainnya. Kira kira ada tidak peristiwa pertarungan massal di Madura, tidak ada. Justru yang ada hal seperti itu yang ada di luar Madura, seperti Ambon dan lainnya,” sambung pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Pamekasan.

Bahkan pihaknya menilai penyematan Madura sebagai daerah sosial yang keras dan kasar sangat tidak beralasan. “Jadi pertanyaannya, kenapa daerah yang selalu identik dengan kekerasan justru tidak mendapat label dan predikat seperti bagi Madura. Padahal tidak pernah ada sejarahnya konflik horizontal di Madura,” pungkasnya. [pin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar