Pendidikan & Kesehatan

Ini Jawaban Mengapa Sampang dan Sumenep Bertahan Zona Hijau Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur hanya tersisa enam daerah yang belum berstatus zona merah (ada kasus positif Covid-19). Yakni, Sampang, Sumenep, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Ngawi dan Kota Madiun.

Dari enam daerah itu, ada dua daerah yang berstatus zona hijau dengan nol kasus pasien dalam pengawasan (PDP) maupun nol kasus positif Covid-19. Dua daerah tersebut adalah Sampang dan Sumenep.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Wagub Jatim, Emil Elestianto Dardak dan Sekdaprov Heru Tjahjono melakukan video conference dengan Bupati Sampang Slamet Junaidi dan Bupati Sumenep KH Abuya Busyro Karim untuk berbagi resep tentang kondisi bagaimana dua daerah tersebut bisa bertahan hijau, tanpa satupun PDP maupun positif Covid-19.

“Pak Bupati Sampang dan Bupati Sumenep silakan menceritakan rahasianya bagaimana menjaga Sampang maupun Sumenep, hingga saat ini menjadi dua daerah se-Jatim yang masih berstatus zona hijau,” tutur Gubernur Khofifah mengawali video conference.

Secara bergantian dua kepala daerah tersebut menceritakan kondisi daerahnya di tengah pandemi Covid-19. Sebagaimana diceritakan oleh Bupati Sampang Slamet Junaidi, pihaknya selama ini aktif melakukan pencegahan penyebaran Covid-19.

“Kami aktif turun ke lapangan untuk memantau warga kami. Sore ini kami juga masih di lapangan, mobil kita sedang mogok di tengah hutan, karena kami dengar ada hajatan pernikahan, kami meminta supaya itu diundur saja setelah Covid-19 ini berlalu,” kata Slamet Junaidi mengawali ceritanya.

Meski masih dalam zona hijau, ia mengatakan bahwa di Sampang, warga masyarakat yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) ada sebanyak 281 orang. Sedangkan yang berstatus sebagai Orang Dengan Risiko (ODR) ada sebanyak 10.000 orang. Para ODP maupun ODR ini yang kini dalam pengawasan ketat oleh Pemkab Sampang.

“Insya Allah besok Senin kami panggil seluruhnya, kepala puskesmas, pustu dan polindes. Kami akan melakukan pendataan. Sekarang ini sudah ada sebanyak 10 ribu lebih warga kami yang sampai di desa-desa dilakukan isolasi,” jelasnya.

Dari mengumpulkan para kepala puskesmas tersebut, Pemkab Sampang ingin agar mereka mendapatkan data riil ODR di Sampang. Yang nantinya mereka akan diminta untuk melakukan isolasi diri. Pihaknya juga akan hadir di sana untuk mencegah agar ODR tidak keluar rumah.

ODR di Sampang ini adalah warga pekerja migran yang mudik dari Malaysia. Mereka juga ada yang dari Spanyol serta Amerika. Oleh Pemkab mereka diberikan prioritas untuk dilakukan monitoring. “Adapun ODP di Sampang, kami selalu melakukan monitoring. Siang malam kami gerak bersama karena Gugus Tugas sampai tingkat desa,” tegasnya.

Gugus Tugas yang sudah menjangkau sampai tingkat pedesaan tersebut diminta untuk menyediakan masker. Warga diminta untuk mengenakan masker dan dengan memberdayakan UKM, warga membuat masker mandiri dari kain dan dilapisi tisu dan akan dibeli pemerintah dengan anggaran dana desa.

Sehingga, dari masker ini juga bisa jalan perekonomian di tengah wabah corona. “Saya juga ingin masyarakat Sampang tidak sampai belanja di luar Sampang, jadi belanja kebutuhan ya cukup di Sampang saja,” imbuhnya.

Sedangkan untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Kabupaten Sampang saat ini memang masih nol angkanya. Sejatinya ada warganya yang masuk PDP setelah mengikuti pelatihan calon petugas haji di Surabaya. Akan tetapi setelah mengikuti pelatihan tersebut warga tersebut pergi ke Malang dan kemudian pulang ke Pamekasan.

Hal senada juga disampaikan oleh Bupati Sumenep KH Abuya Busyro Karim. Ia mengatakan bahwa ia bisa mempertahankan Sumenep sebagai zona hijau, karena daerahnya melaksanakan aturan dengan ketat. Dan, jaminan keselamatan kepada siapapun yang datang ke Sumenep juga dilaksanakan.

“Semua yang datang discreening dilihat kesehatannya. Di antaranya yang mudik. Selanjutnya, ada kesadaran masyarakat karena juga dari tokoh masyarakat ikut melakukan imbauan. Seperti kalau ada pesta pernikahan itu sebaiknya ditunda dulu,” kata Busyro Karim.

Tak hanya itu, di kawasan pedesaan Kabupaten Sumenep juga diterapkan desa siaga Covid-19. Masker dan semacamnya juga produksi sendiri oleh warga sebagai sarana pencegahan penyebaran virus. “Bilik-bilik sterilisasi juga didirikan di berbagai wilayah di Sumenep. Bahkan, di Kangean juga sudah disiapkan,” katanya.

Sejauh ini di Kabupaten Sumenep tercatat ada sebanyak 123 orang ODP. Dikatakan Busyro di Sumenep ada sebanyak 82 orang yang diisolasi secara mandiri atau karantina mandiri. “Sudah ada 82 orang yang diisolasi. Biasanya ada yang menolak saat awal akan dikarantina. Tapi setelah dibujuk dan diberi pengertian akhirnya mau. Intinya peran tokoh desa,” tegasnya.

Mendengar penjelasan dari dua kepala daerah tersebut, Gubernur Khofifah kembali memberikan semangat dan juga motivasi pada pemerintah daerah setempat agar terus berjuang tak kenal lelah mencegah penyebaran Covid-19.

“Terus semangat menjaga daerah kita agar tidak terjadi penyebaran virus. Dan, tak hentinya mari kita terus sosialisasikan ke masyarakat untuk stay at home memproteksi diri sendiri maupun orang lain. Menagapa kita hari ini ingin mengkonfirmasi bupati Sampang dan Sumenep, karena dua daerah itu yang Alhamdulillah sampai hari ini yang terkonfirmasi tidak ada PDP maupun kasus positif,” pungkas Gubernur Khofifah. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar