Pendidikan & Kesehatan

Ingin Hadiri Pemakaman Ibu, Warga Pasuruan Diperbolehkan Masuk Malang

Pemeriksaan kendaraan di cek poin Balearjosari, selama PSBB Malang Raya.

Malang(beritajatim.com) – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Malang Raya memasuki hari kedua, Senin, (18/5/2020). Petugas berjaga dengan sigap, menerapkan protokol kesehatan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona Covid-19.

Di pos cek poin Balearjosari, Kota Malang, petugas yang berjaga memeriksa satu persatu mobil dan motor yang akan masuk ke wilayah PSBB Malang Raya. Mobil dan motor berplat nomor luar kota sudah otomatis mendapat pemeriksaan sesuai prodesur.

Dimulai dari melihat kartu tanda penduduk (KTP), bila ber-KTP luar Malang bakal diminta untuk putar balik. Mereka masih bisa masuk Malang asal ada surat tugas bekerja dari perusahaan. Kemudian di cek suhu tubuhnya, bila diatas ketentuan akan diminta istirahat. Kemudian di cek suhu lagi untuk memastikan pengendara suhu tubuhnya sudah turun bila masih tinggi akan dibawa ke rumah sakit rujukan.

Kasubnit I Turjawali Satlantas Polresta Malang Kota Iptu Syaikhu petugas yang berjaga tidak mentolerir alasan tidak jelas warga luar kota yang ingin masuk ke Malang. Seperti alasan berbelanja, alasan melintas Malang dengan tujuan daerah lain ataupun alasan lainnya.

Namun, selama dua hari ini ada dua pengendara yang dibiarkan lolos karena alasan kemanusiaan. Pada Minggu, (17/5/2020) kemarin ada warga Pasuruan yang ingin masuk ke Malang karena orangtuanya meninggal dunia. Pada Senin, (18/5/2020) juga ada warga Purwodadi, Pasuruan yang ingin masuk Malang karena ingin melihat pemakaman ibunya.

Pengendara ini sempat tertahan, oleh petugas di cek poin. Petugas tidak percaya begitu saja dengan alasan pengendara. Namun karena salah satu penumpang mobil terus menangis. Dan pengendara menunjukan bukti orangtuanya meninggal dunia akhirnya petugas terketuk hatinya untuk membiarkan mereka masuk dengan alasan melayat orangtua.

“Ada keperluan warga yang mendesak ibunya meninggal dunia sama kemarin ada juga warga Pasuruan semua, hari ini dan kemarin. Nangis-nangis akhirnya kita perbolehkan. Karena rasa kemanusiaan akhirnya diperbolehkan, mau ke rumah duka di Blimbing, Kota Malang,” ujar Syaikhu.

Perlakukan berbeda dialami warga Surabaya. Dia ngotot ingin masuk Kota Malang karena ingin mengantar makanan ke Lapas Lowokwaru, Kota Malang. Karena dianggap tidak memiliki keperluan yang mendesak dia akhirnya dilarang masuk. Sebagai solusinya, dia diminta untuk menggunakan jasa transportasi online mengantar makanan ke Lapas Lowokwaru.

“Ada juga dari Surabaya mau ngantar makanan ke Lapas Lowokwaru karena sesuai aturan kita minta tunggu agar pakai ojek online saja untuk mengantar makanan ke Lapas. Ini kategori keperluan yang tidak mendesak,” tandasnya. (luc/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar