Pendidikan & Kesehatan

Indonesia Rawan Tuberkulosis, Terutama di Lapas

Mojokerto (beritajatim.com) – Bertepatan dengan Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap tanggal 24 Maret, sebanyak 710 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Mojokerto mengikuti konseling Tuberkulosis (TB) dan tes Human Immunodeficiency Virus (HIV). Konseling TB dan tes HIV digelar selama tiga hari ke depan.

Kepala Seksi Pembinaan Warga Binaan dan Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Klas IIB Mojokerto, Andik Prasetyo mengatakan, Indonesia merupakan peringkat nomor 2 di dunia terutama di Lapas. “Karena dengan tingkat kelembaban tinggi dan kepadatan penghuni di Lapas,” ungkapnya, Selasa (5/3/2019).

Sehingga, lanjut Kasi Binadik, TB menjadi masalah yang sangat pelik yang harus dihadapi bersama. Karena sifat penularan TB sangat simpel yakni cukup dengan berpaparan dengan penderita sehingga harus dilakukan upaya preventif agar penderita TB tidak menyebar di dalam Lapas.

“Itu tujuan sebenarnya. Per hari ini, tanggal 5 Maret 2019 ada sebanyak 710 warga binaan, sementara kapasitas Lapas hanya 340 orang. Peningkatannya 100 persen jadi dengan ukuran kamar 5×5 meter bisa dihuni 30 orang, sangat tidak sehat. Ukuran kamar variasi, ada isi 3 orang tapi diisi 10 orang, 25 orang diisi 50 orang juga ada,” katanya.

Konseling TB dan tes HIV tersebut merupakan salah satu program dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto melalui Puskesmas Gedongan. Untuk skrining HIV sifatnya rutin, skrining dilakukan dengan mengambil sampel darah atau urine pasien untuk diteliti di laboratorium yakni bagi warga binaan yang baru masuk.

“Namun karena bertepatan dengan Hari TB internasional sehingga dijadikan satu skrining HIV dan TB. HIV sasaran khusus tahanan baru, sementara untuk TB seluruh warga binaan. HIV 3 bulan sekali, TB rutin namun beberapa bulan lalu tidak menyeluruh hanya sampel random. Untuk saat ini menyeluruh,” jelasnya.

Kasi Binadik menjelaskan, konseling TB tersebut sifatnya wajib karena merupakan salah satu deteksi dini penularan TB karena penularannya cukup cepat. Sehingga saat ditemukan warga binaan mengidap TB maka akan ditempatkan pasien TB di kamar khusus yang dihuni sama-sama pengidap TB.

“Mereka akan diterapi obat-obatan selama enam bulan sampai satu tahun secara gratis. Begitu juga jika ditemukan HIV, ada perlakukan khusus diberikan obat-obatan ARV sifatnya rutin disuplai puskesmas. Untuk kegiatan ini memang ada instruksi khusus dari Kementerian Hukum dan HAM ada MOU dengan Kemenkes pelaksanaan TB di seluruh Lapas dan Rutan,” tuturnya.

Tak hanya bisa diikuti warga binaan, lanjut Kasi Binadik, konseling TB juga bisa diikuti pengunjung Lapas Klas IIB Mojokerto. Pihaknya akan memasang banner yang ditempatkan di tempat khusus dan strategi terutama di tempat kunjungan, layanan informasi untuk melaksanakan skrining pengunjung.

“Pengunjung yang antri di pendaftaran di depan, sembari menunggu dipanggil nomor antrian akan ada petugas medis untuk mengambil sampel. Untuk pengunjung sifatnya tidak wajib, sukarela, hanya yang mau saja. Untuk warga binaan yang mengidap baik HIV atau TB, setelah keluar kami tetap akan memberikan data pasien ke puskesmas tempat asal agar bisa di follow,” pungkasnya. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar