Pendidikan & Kesehatan

Ijazah 3 Siswa Ditahan Sekolah, Dewan Lakukan Mediasi

Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu sekolah menengah kejuruan di Surabaya menahan ijazah warga Krembangan Bhakti. Ia bernama Reformasi Arif P yang telah lulus tahun 2019 jurusan musik.

Arif ini adalah warga yang tidak mampu yang hidup di pinggiran rel bersama dengan ibunya bernama Sutini. Arif telah mendatangi sekolahnya dengan maksud untuk mencicil tunggakan, namun oleh pihak sekolah ditolak.

“Padahal sudah menunjukkan (Kartu Keluarga Sejahtera)  dan SKM (Surat Keterangan Miskin) namun ditolak, Bahkan fotocopy legalisir tidak diberi sehingga terancam tidak bisa mencari kerja,” keluh Arif pada Jumat lalu (11/10/2019) kepada beritajatim.com.

Arif pun meminta bantuan ke PDIP Surabaya untuk menyelesaikan permasalahannya itu. Achmad Hidayat , Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Surabaya menerima kedatangannya.

Hidayat panggilan akrabnya, telah berupaya menghubungi UPT Cabang Surabaya Dispendik Provinsi Jawa Timur.  Namun sampai saat ini belum ada langkah penyelesaian yang konkret.

“Kami harap Dispendik Provinsi membuat kebijakan yang bisa menyelesaikan permasalahan ijazah ditahan secara komprehensif,” ucapnya.

Karena kalau penahanan itu dilakukan, kata Hidayat yang juga Tenaga Ahli Fraksi PDIP DPRD Surabaya, dapat membuat masyarakat menjadi susah. “Penahanan Ijazah itu tidak boleh dilakukan apalagi dilakukan oleh sekolah,” imbuh Hidayat.

Dihubungi secara terpisah, Karyanto Kepala Cabang Dinas Pendidikan Surabaya-Sidoarjo, mengatakan bahwa jalan keluar terbaik adalah dengan komunikasi dengan pihak sekolah.

“Harus komunikasi yang baik dengan sekolah. Minta tolong baik baik nanti pasti ada jalan keluar,” ujar Karyanto melalui pesan daring.

Seminggu setelah laporan Arif, (18/10/2019), Achmad Hidayat bersama Armudji melakukan negosiasi bersama Arif dan dua siswa lainnya yang juga belum bisa mengakses ijazah.

Ketiga siswa yang didampingi mediasi adalah, Reformasi Arif P yang menunggak selama 18 bulan, Nurul Ma’rifa Aslamia yang menunggak 24 bulan, dan Kheyza Gita yang menunggak 9 bulan.

Dengan mediasi ini, ketiga siswa tersebut telah disepakati untuk bisa diberikan ijazah asli dan legalisir dengan ketentuan untuk membuat surat pernyataan mencicil hingga lunas.

Drs. Birawa Sakti Pracihara, M. Pd, selaku Kepala Sekolah SMKN 12 Surabaya mengatakan bahwa apa yang dialami Arif adalah kesalahpahaman mekanisme pembayaran.

“Kemarin itu maksudnya Petugas TU untuk menyocokkan terlebih dahulu data pembayarannya ke guru wali kelasnya, kemudian baru bisa diterima pengajuan pengambilan ijazahnya. Tapi setelah dari guru, siswanya malah pulang. Kalau ada kerancuan di bawah kan bisa langsung ke saya,” ujar Praci.

Praci juga mengatakan bahwa permasalahan sudah clear dan tidak ada kesalahpahaman lagi. Di SMKN 12 juga banyak siswa yang memiliki tunggakan selain ketiga siswa tersebut dan mereka juga diberikan kesempatan untuk mendapatkan ijazah dengan surat pernyataan yang sejenis.

“Tidak ada namanya menyusahkan atau menahan siswa. Kalau mereka mengikuti mekanisme ya semua saya rasa lancar,” terangnya.

Sedangkan Armudji mengatakan bahwa dengan mediasi ini tentunya diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman serupa.

“Tidak papa mengadu ke kami, tapi memang baik untuk mengikuti mekanisme terlebih dahulu. Kalau ditakaran bawah buntu, ya minta kejelasan kepala sekolah terlebih dahulu,” pungkas Armudji. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar