Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Iduladha di Tengah Wabah PMK, Begini Syarat Hewan Kurban Kata MUI Magetan

Sumarno Abdul Aziz, Wakil Ketua MUI Magetan

Magetan (beritajatim.com) – Hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) masih boleh dijadikan hewan kurban. Namun, dengan syarat hewan kurban yang terjangkit PMK itu masih mengalami gejala ringan.

Utamanya tidak dalam keadaan pincang atau tidak kurus. Hal itu disampaikan Sumarno Abdul Aziz, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Magetan.

Sumarno menjelaskan jika hewan kurban yang terjangkit PMK dalam gejala yang ringan masih sah dijadikan hewan kurban. Namun, jika sudah kondisi pincang dan badannya kurus maka tidak sah hukumnya dijadikan hewan kurban.

“Syarat hewan kurban sesuai dengan Fatwa MUI nomor 32 tahun 2022 yakni sehat, tidak cacat. Utamanya itu ya. Kemudian, di tengah wabah PMK ini tidak menutup kemungkinan adanya hewan kurban yang terjangkit. Namun, PMK kan tidak mematikan dan tidak menular ke manusia, sehingga selama penyakit ini tidak membuat hewan kurban pincang atau kurus maka masih sah untuk dikurbankan,” kata Sumarno, Sabtu (2/7/2022).

Jika sudah sempat terjangkit PMK dengan gejala yang berat, kemudian sembuh pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah maka masih sah untuk dikurbankan. Selebihnya, jika sembuh lewat 13 Dzulhijjah maka tidak sah.

“Khususnya bagi hewan kurban gejala berat dan masih dalam pengobatan dan kondisinya sudah membaik. Selama tidak kurus dan pincang masih sah dikurbankan,” pungkasnya.

Selebihnya, Sumarno menyebut jika hewan kurban yang terjangkit PMK dan sudah disembelih untuk kurban nantinya, dagingnya tetap aman dikonsumsi selama dimasak hingga matang sempurna. (fiq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar