Pendidikan & Kesehatan

Icha Atmadi Terkena Covid 19, Sakit Fisik dan Ekonomi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Dalam sebuah dialog produktif yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Icha Ahmadi ST seorang penyintas Covid 19 menjadi salah satu pembicara. Dia bercerita banyak tentang kondisi dirinya saat terkena virus hingga berjuang keluar dan kembali hidup sehat.

Banyak yang tidak mengetahui, karena corona virus disease Covid19 sulit ditebak. Saat tahu, seseorang sudah terjangkit.

“Semua pasien Covid 19 baik yang gejalanya ringan, sedang, maupun berat, mengalami titik terendah sehingga membuat kita lebih introspeksi,” katanya.

Dirinya juga bercerita tentang kondisi ayahnya yang juga terkena virus ini.

“Ayah saya sampai mendapatkan beberapa suntikan infus, belum lagi ditambahkan alat bantu pernafasan, serta alat pendukung dan tindakan medis lainnya. Jadi benar-benar mencemaskan waktu itu,” terangnya.

Dia menyebut, Covid 19 ini serius. Menurutnya, bukan hanya sakit fisik saat terjangkit, tapi beban mental juga terasa.

“COVID-19 ini serius sekali. Untuk gejala paling ringan pun bisa terasa sakit baik bagi fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang mengalami gejala berat, seperti yang dialami ayah saya waktu itu, yang memerlukan alat bantu pernafasan. Perasaan cemas yang dirasakan itu seperti setiap hari akan menghadapi kematian,” ucapnya.

Belum lagi, kondisi ini jika dihitung ekonomi dalam matematika. Biaya akan menjadi ujian berat bagi para penderitanya.

“Tidak hanya merugikan secara ekonomi, namun juga penyakit ini sangat serius. Apabila biaya perawatan dihitung dan ditanggung secara mandiri, bisa mencapai ratusan juta rupiah selama 45 hari menjalankan perawatan. Hanya saja biaya perawatan dan keluarga serta pasien COVID-19 lainnya saat ini ditanggung negara,” katanya.

Dirinya bersyukur, dapat keluar dari zona tak nyaman itu. Melewati 45 hari dengan penuh kegalauan.

“Protokol kesehatan dalam keluarga kami lebih diperketat setelah sembuh dari COVID-19. Pengalaman yang saya alami pun saya bagikan kepada teman-teman, agar mereka tidak mengalami apa yang saya rasakan,” ujarnya.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, menyimpulkan beberapa pernyataan di atas. Kesehatan dan ekonomi begitu berhubungan erat.

Dalam kasus pasien Covid 19, jika dihitung secara ekonomi sangatlah berat. Ambil contoh, pasien Covid 19 harus melakukan perawatan di dalam ruang ICU selama berhari-hari.

“Saat ini pemerintah memang menanggung biaya rumah sakit melalui anggaran Kementerian Kesehatan. Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari apalagi harus masuk ICU yang biayanya bisa sehari Rp15 juta per hari, pengeluarannya bisa lebih dari seratus juta. Tapi masyarakat perlu pahami, meski ditanggung negara maka jangan merasa nyaman dan tidak peduli menjalankan protokol Kesehatan”, terang Prof. Hasbullah dalam sebuah dialog yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Belum lagi, kata Hasbullah, menghitung pendapatan yang hilang bagi pasien jika mereka bekerja.

“Ingat pada saat dirawat kita menjadi tidak produktif, itu sudah kehilangan banyak pendapatan per harinya. Belum lagi setiap hari pasien merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya, ini yang tidak bisa dihitung oleh uang,” tambah Prof. Hasbullah.

Saat ini, semua biaya bagi pasien Covid 19 ditanggung oleh pemerintah. Meski demikian, tak serta merta masyarakat menjadi tak mawas diri. Patuhi protokol kesehatan, termasuk selalu menerapkan 3M.

“Apabila kita bisa disipilin menjalankan protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak aman), dan pemerintah aktif menjalankan 3T (Tracing, Testing, Treatment), kita dapat menghemat kerugian negara yang lebih besar lagi, kita bisa menghemat sampai Rp500 Triliun, dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia,” terangnya.

Dia menyebut, langkah pencegahan menjadi hal yang wajib dan bermanfaat. Tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga orang lain.

“Kita harus menyadari bahwa mencegah penularan COVID-19 sangat besar manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Manfaatnya memang tidak kelihatan saat kita belum mengalaminya, sama seperti perumpamaan, kita baru menyadari mahalnya mata kita saat kita sudah tidak bisa melihat lagi. Jadi jangan kita tunggu sampai kita kehilangan penglihatan. Mencegah jauh lebih baik dan itulah amal ibadah kita,” pungkasnya. [rin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar