Pendidikan & Kesehatan

Heroik, KasatIntel Polresta Malang Kota Makamkan 75 Jenazah Covid-19

Pemakaman jenazah Covid-19 oleh Kepala Satuan Intelkam Polresta Malang Kota, Kompol Sutiono bersama relawan Public Safety Center (PSC) 119 Malang.

Malang(beritajatim.com) – Kisah heroik dilakukan oleh Kepala Satuan Intelkam Polresta Malang Kota, Kompol Sutiono. Dibalik tugasnya sebagai seorang intelejen polisi dia juga melakukan tugas kemanusiaan sebagai relawan pemulasaran jenazah Covid-19 di Kota Malang.

Perwira polisi itu mengaku awalnya ada seorang jenazah Covid-19 yang keluarganya atau kerabatnya tidak berani memakamkan jenazah. Bersama relawan Public Safety Center (PSC) 119 Malang dia akhirnya memberanikan diri untuk menjadi relawan pemakaman Covid-19. Ternyata aksinya pada bulan Maret itu berlanjut hingga saat ini. Total sudah 75 jenazah Covid-19 yang dikebumikan oleh Sutiono terdiri dari pasien positif dan PDP.

“Dari polisi awalnya saya sendirian, terus ada anggota lain sampai jumlahnya lima orang dari Polresta Malang Kota total ada enam sekarang sama saya. Kalau saya sejak Maret saya merasa terpanggil saat ada jenazah Covid-19 tapi tidak ada yang berani memakamkan,” ujar Sutiono, Jumat, (10/7/2020).

Sebagai manusia tentu dia juga takut dengan virus menular ini. Sempat dilarang oleh keluarganya karena beresiko tinggi. Namun, dia meyakinkan keluarga di rumah bahwa dia memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Dia memastikan bahwa mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki terlindungi oleh alat pelindung diri mulai hazmat, sarung tangan, masker dan face shield. Semuanya bersifat satu kali pakai demi keamanan petugas.

“Yang penting harus safety, gimana caranya agar tidak kena. Untuk muka contohnya, harus tertutup rapat. Setelah ngubur, tangan harus direndam cairan alkohol 90 persen atau kalau gak ada, direndam cairan nitrogen peroxida selama 10 menit. Terus 12 hari sekali kita rapid test,” papar Sutiono.

Hal yang paling krusial dalam menjadi relawan pemulasaran jenazah Covid-19 adalah meyakinkan keluarga pasien bahwa mereka dilarang mendekat atau membuka jenazah yang sudah dimasukan peti atau kantong mayat. Sebagai seorang polisi dan pemimpin regu di relawan ini Sutiono dengan sabar menjelaskan bahwa membuka jenazah sangat rentan tertular Covid-19.

“Itu yang paling sulit, saya katakan kalau mau tertular dan memaksa resikonya di tanggung sendiri. Kami pastikan bagi muslim jenazah akan dimakamkan secara muslim, di mandikan hingga di salatkan. Kalau mau disalatkan lagi kita persilahkan sampai ikut ke TPU. Tapi kalau dibuka ya harus kita jelaskan resikonya,” ujar Sutiono.

Sutiono menjelaskan prosedur pemakaman Covid-19 cukup menyita waktu, sementara jenazah harus dikebumikan maksimal 4 jam setelah wafat Bila lebih dari satu jenazah dalam satu hari bisa dibayangkan seberapa beratnya tugas mereka. Belum lagi lokasi pemakaman berbeda-beda.

Untuk itu, tak jarang dia dan anggota lainnya tidur diatas pusara. Dia menginstruksikan kepada relawan lainnya bila capek harus segera istirahat dan tidur. Tidak peduli di kamar mayat atau kuburan petugas wajib istirahat. Sebab, dalam kondisi lelah imun dikhawtirkan turun dan rentan tertular Covid-19.

“Ya kalau capek tidur, sering tidur di kuburan di atas pusara. Karena kita kan harus jaga daya tahan tubuh. Makanya kalau ada waktu kami istirahat langsung tidur dilokasi. Karena prosedurnya agak panjang sehari 2 sampai 5 jenazah dan harus dimakamkan maksimal 4 jam setelah kematian,” tandasnya. (Luc)





Apa Reaksi Anda?

Komentar