Pendidikan & Kesehatan

Headpiece Cantik Ala Mahasiswa Ubaya

Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) Program Design Fashion and Product Lifestyle dan mengikuti mata kuliah Accessories Design Project, menampilkan hiasan kepala Headdress & Headpiece sebagai karya Ujian Tengah Semester (UTS).

Dari sekian karya, enam kreasi karya Meliana Wiyono, Vionita Sitanaya, dan Rafaella Pasca Hariyanto, adalah yang berbeda. Dari dua karya wajib headdress & headpiece yang masing-masing dibuat mahasiswa, hasil karya ketiga mahasiswa tersebut memiliki ciri khas serta pesan yang ingin disampaikan kepada penggunanya sesuai tema yang diusung.

Viviany, S.Ds, Dosen Mata Kuliah Accessories Design Project menuturkan, headdress merupakan hiasan kepala yang sifatnya lebih formal, berukuran lebih besar, dan ornamental sehingga dapat digunakan untuk acara seremonial atau kebutuhan panggung, contohnya millenery. Sedangkan headpiece sifatnya lebih informal. Secara ukuran, headpiece biasanya lebih kecil sehingga mudah digunakan untuk sehari-hari seperti jepit, bando, dan tusuk konde. Semester ini tema yang diusung dari fashion trend forecasting tahun 2021 yaitu “TransForm”.

“Sebagai tema Accessories Design Project semester ini, TransForm memiliki pesan yang dalam bagi masyarakat. Kami ingin mengangkat isu ekologi karena melihat dunia yang semakin lama makin rapuh. Melalui karya produk mahasiswa, kami ingin menyampaikan pesan yang mengisyaratkan bahwa bumi sudah dekat dengan namanya apocalyptic atau kepunahan. Perubahan atau Transform yang terjadi di dunia saat ini menjadi ide untuk dikreasikan menjadi headdress serta headpiece yang dapat digunakan sebagai aksesoris penghias kepala atau rambut,” papar Viviany.

Victorie de Fame merupakan nama koleksi karya Melina Wiyono. Mahasiswi cantik asli Mojokerto yang berusia 21 tahun ini menjelaskan bahwa koleksi miliknya terinspirasi dari kekeringan panjang yang terjadi di Ethiopia sekitar tahun 1980-an. Dampak yang terjadi akibat kekeringan membuat penduduk menjadi gagal panen hingga menderita kwashiorkor pada anak kecil.

“Warna yang diterapkan pada koleksi dominan dengan warna-warna yang menggambarkan kekeringan seperti cokelat dan hitam. Pada karya ini, juga lebih menonjolkan tekstur berupa ranting serta biji pinus. Tantangan yang dihadapi saat membuat headdress yaitu pada pemasangan ranting-rantingnya. Sedangkan pembuatan headpiece harus sabar melilitkan kawat satu per satu sehingga menjadi bentuk ranting daun,” ungkap Melina yang memiliki hobi fotografi.

Lunette merupakan nama koleksi dari karya milik Vionita Sitanaya dengan subtema yang diangkat adalah Kanibalisme. Ide pembuatan koleksi berawal dari kesukaan mahasiswi kelahiran Ambon ini dalam menonton film horor. Melalui kegemarannya itu, tercetuslah ide untuk membuat suatu produk dengan nuansa yang gelap serta kaku. Warna hitam dan merah menjadi pilihan alumnus SMAN 1 Ambon ini untuk memperkuat kesan horor dan ciri khas karyanya yang gelap.

“Mata kuliah ini mengajak kami berimajinasi dengan tema yang dipilih. Awalnya saya berpikir bagaimana jika manusia dimuka bumi ini menjadi kanibal dan mereka harus survive atau bertahan hidup hingga akhir hayat mereka. Subtema yang saya pilih tidak hanya berbicara pada konteks fisik dengan memangsa manusia satu sama lain. Namun, saya juga ingin menyinggung terkait konteks jiwa. Saat ini manusia dapat memakan serta mematikan jiwa seseorang dan hal ini berkaitan dengan mental illness,” jelas Vionita.

Koleksi terakhir merupakan karya milik Rafaella Pasca Hariyanto. Mahasiswi semester tiga ini menceritakan bahwa subtema yang dipilih terinspirasi dari bagaimana manusia bertahan hidup di cuaca ekstrem khususnya musim dingin. Musim dingin yang identik dengan salju ditonjolkan dengan menggunakan bulu-bulu lembut berwarna putih di setiap koleksinya.

“Saya menggunakan warna musim dingin seperti putih dan biru. Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan melalui karya ini bahwa ada beberapa bunga yang dapat terus tumbuh dan bertahan hidup di cuaca dingin yang ekstrem. Jika bunga saja dapat tumbuh, pastinya kita sebagai manusia harus lebih mampu bertahan hidup dalam menghadapi situasi yang tersulit. Selain ada ornamen bunga, saya juga menambahkan kawat runcing yang melambangkan bunga-bunga es,” ucap Rafaella.

Proses pembuatan produk dari konsep, desain, hingga merealisasikan produk diperlukan waktu kurang lebih tujuh minggu. Selama proses pembuatan berlangsung mahasiswa melakukan konsultasi terlebih dahulu terkait konsep pesan yang ingin diusung dalam produk sampai desain yang dibuat.

“Ini adalah produk pertama karya mahasiswa semester tiga yang mereka buat sendiri mulai dari konsep, desain, hingga produk jadi. Saya berharap mereka bisa lebih percaya diri untuk menghasilkan karya berikutnya yang lebih baik lagi,” tutup Viviany. [kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar