Pendidikan & Kesehatan

Hati-hati Dampak Kurang Gizi Tersembunyi

Surabaya (beritajatim.com) – Informasi tentang gizi yang berimbang masih minim. Hal ini terbukti dari tingginya angka hidden hunger (kurang gizi tersembunyi) di Indonesia. Dari 107 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-70 dari kasus hidden hunger.

Hal ini diungkap Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia Institute Pertanian Bogor (IPB). Dia menyebutkan hidden hunger terjadi saat tubuh kekurangan zat gizi mikro seperti iodium, zat besi, vitamin A dan zink. Nah, hal inilah yang menimbulkan beberapa masalah kesehatan berkepanjangan.

Contohnya, Riset Kesehatan Dasar 2018 memperlihatkan 48,9 % ibu hamil menderita anemia, dan Riset Kesehatan Dasar 2013 melaporkan bahwa 14,9% anak usia sekolah berisiko kekurangan iodium.

“Kenyang bukan berarti kebutuhan akan gizi tercukupi dan masyarakat sering sulit membedakannya. Jika tidak segera mendapatkan perhatian, akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang, bahkan jika terlambat tidak bisa diperbaiki lagi, seperti lambat belajar dan lainnya,” beber Dodik dalam kegiatan webinar ‘Royco NutriMenu’.

Hal yang sama juga diamini oleh dr. Diana F. Suganda, Sp.GK, M.Kes, Dokter Spesialis Gizi Klinik yang menyebutkan banyak unsur mikro yang dibutuhkan tubuh tetapi sering diabaikan masyarakat. Salah satunya kekurangan iodium yang menyebabkan penyakit gondok dan pada anak membuat IQ dan perkembangan otak terganggu.

“Diperkirakan, 20 juta orang Indonesia menderita GAKI, yang mengakibatkan hilangnya IQ setara 140 juta point. Maka, pemenuhan kebutuhan iodium harus diperhatikan dari hulu ke hilir. Sejak 1.000 hari pertama kehidupan atau di dalam kandungan, hingga ke tahapan usia selanjutnya,” ungkap Diana.

Bagaimana solusinya? Maka ibu hamil, bayi, remaja bahkan orangtua harus mengkonsumsi gizi seimbang. Misalnya karbohidrat seperti nasi, mie dan lainnya hanya boleh sepertiga piring. Sedangkan yang lainnya lauk-pauk dan berbagai macam sayur.

Menjawab tantangan itu, Royco berinovasi melalui rangkaian produknya, terutama Royco Kaldu Ayam dan Sapi yang kini menggunakan garam beriodium. Dibuat dengan daging sapi dan ayam berkualitas yang direbus lama dan tanpa menggunakan bahan pengawet untuk semakin menyempurnakan kandungan nutrisi dari tiap hidangan rumah.

Dengan harga yang tetap sama, kandungan iodium dalam Royco baru sangat baik untuk anak karena dapat membantu membentuk hormon pertumbuhan sehingga perkembangan kecerdasan, fisik dan mental mereka menjadi lebih optimal–tanpa mempengaruhi cita rasa masakan khas Royco.

“Sejak 2019, Unilever secara global memiliki komitmen untuk membantu masyarakat melakukan transisi menuju pola makan yang lebih sehat sembari mengurangi dampak lingkungan dari sistem rantai makanan secara keseluruhan,” ungkap Hernie Raharja, Director of Foods & Refreshment PT Unilever Indonesia Tbk.

“Kami terus mengedukasi masyarakat agar sadar dengan pentingnya gizi berimbang. Kami juga memulai Gerakan Pangan untuk Masa Depan Berkelanjutan guna menginspirasi keluarga Indonesia dalam mengonsumsi hidangan yang baik untuk tubuh maupun untuk bumi,” tandasnya. [rea/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar