Pendidikan & Kesehatan

Hati-hati! Covid-19 Juga Bisa Menginfeksi Kucing

Surabaya (beritajatim.com) – Wabah virus corona atau Covid-19 telah menjangkiti di berbagai belahan dunia. Penularannya yang cepat dan dapat menyebabkan kematian tentu saja menjadi momok bagi manusia.

Tetapi baru-baru ini, terdapat kasus dan penelitian yang menyatakan bahwa Covid-19 dapat menulari hewan, khususnya kucing, hal ini dinyatakan oleh Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Bidang Biologi Molekular, Prof C.A. Nidom yang juga Ketua Tim Riset Corona & Formulasi Vaksin dari Profesor Nidom Foundation (PNF), Sabtu (11/4/2020) kepada beritajatim.com.

Prof Nidom mengatakan bahwa terdapat beberapa kasus seperti harimau bernama ‘Nadia’ di The Bronx Zoo NewYork, USA terinfeksi virus Covid-19. Nadia, bersama beberapa kucing, diperkirakan tertular Covid-19 dari penjaga kebun binatang yang positif terinfeksi, namun tanpa gejala klinis (asimptomatik). Informasi tersebut diperkuat dengan data surveilans virus Covid-19 oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE).

Fakta terinfeksinya harimau dan hewan lain yang termuat dalam halaman Washington Post (9/4/2020) juga diperkuat oleh hasil penelitian dari Harbin Veterinary Research Institute (HVRI) China yang melakukan uji penularan virus COVID-19 terhadap hewan domestik, kesayangan dan ternak yaitu Kucing, Anjing, Ferret, Babi, Ayam, Itik.

“Pada penelitian di Harbin didapat kesimpulan para peneliti bahwa Kucing dan Ferret merupakan hewan yang paling peka terinfeksi virus Covid-19,” ungkap Prof Nidom.

Fakta dari penelitian ini, penularan virus Covid-19 antar kucing ternyata melalui droplet yang masuk ke dalam saluran pernafasan. RNA virus dari droplet kucing yang tertular bisa diuji melalui bilasan hidung (nasal turbinate), langit-langit mulut (soft palates), organ tonsil, trakhea, dan juga usus kucing (tidak dominan).

Antibodi virus Covid-19 juga terdeteksi pada kucing yang sengaja diinokulasi dan kucing yang tertular melalui droplet. Pengujian pada anjing, ditemukan RNA virus Covid-19 pada rectal swab, namun tidak ditemukan virus pada swab manapun. Antibodi pada anjing diperoleh seronegatif. Jadi virus Covid19 pada anjing memiliki replikasi yang lebih rendah dibanding pada kucing.

Dalam pengujian itu pada babi, ayam, dan itik menunjukkan bahwa RNA virus Covid-19 tidak terdeteksi pada sampel swab manapun. Antibodi virus Covid-19 juga tidak terdeteksi.

Pada kucing, selama ini dapat terinfeksi oleh Feline dan Canine coronavirus (FCoV dan CCoV) melalui reseptor aminopeptidaseN (APN), yang merupakan reseptor Alphacoronavirus; dan juga bisa terinfeksi oleh human coronavirus (HCoV-229E), tanpa menunjukkan gejala klinis.

Munculnya virus FCoV-II pada kucing menunjukkan adanya ko-infeksi antara FCoV-1 dan CCoV-II kemudian melakukan rekombinasi dan menghasilkan strain baru yaitu FCoV-II. Selain itu, FCoV- 1/CCoV-1 dan FCoV-II/CCoV-II punya kesamaan spike (protein S) yang bisa mengacaukan reseptor spesifik dari setiap strain virus.

Fenomena Kucing sebagai hewan yang bisa tertular virus Covid-19 baik di alam maupun di laboratorium, memunculkan kekhawatiran tersendiri. Mengingat selama ini hanya hewan liar yang diduga sebagai sumber atau perantara virus Covid-19. Menurut OIE, adanya bukti kuat bahwa virus Covid-19 muncul dari sumber hewani, meskipun belum jelas jalur asli penularan dari hewan ke manusia.

“Namun, sampai saat ini belum ada bukti bahwa hewan yang terinfeksi virus Covid-19 dari manusia berperan dalam penyebaran virus ini. Wabah Covid-19 yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh kontak dari orang ke orang. Pola interaksi yang kompleks dalam konsep Human-Animal-Environment Interface, menjadi dasar yang melatar-belakangi mitigasi terhadap wabah penyakit infeksi, terutama yang bersifat zoonosis seperti Covid-19,” terangnya.

Kedekatan hubungan antara manusia dengan hewan peliharaan dalam sebuah ekosistem menjadi kunci dari mata rantai penularan, pemutusan rantai sampai muncul kembali (relapse). Fase relapse menjadi bagian yang tak kalah penting untuk diwaspadai. Beberapa hewan liar dan domestik telah terbukti menjadi sumber utama penularan dan reservoir infeksi pada beberapa kasus wabah zoonosis.

Hewan memiliki kemampuan untuk menjadi ‘rumah tempat tinggal’ yang nyaman bagi beberapa virus infeksius. Di dalam tubuh hewan, virus akan bersembunyi, berdamai dengan sistem imun host untuk mencapai suatu fase homeostasis, atau bahkan membangun kekuatan baru untuk kemudian siap dilepas ke lingkungan menjadi virus baru yang lebih ganas, bagai teori Paradoks Peto pada kejadian kanker.

Menilik fakta baru peran Kucing dan hewan peliharaan lain, baik sebagai reservoir atau penyebar virus Covid-19, maka perlu lebih waspada melalui langkah-langkah strategis. Surveilans aktif terhadap Kucing dan anjing peliharaan atau Kucing jalanan (Stray cats) dan hewan lainnya terhadap Covid-19.

“Pemeriksaan rutin kesehatan Kucing, anjing dan hewan peliharaan lain agar bisa dipastikan tidak membawa virus Covid-19. Hal ini penting untuk mitigasi wabah Covid-19 dan pemutusan penyebaran Covid-19, dalam ruang lingkup yang lebih kecil serta sebagai Early Warning System atau sistem peringatan dini terhadap potensi wabah penyakit infeksi,” pungkasnya. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar