Pendidikan & Kesehatan

Happy Hypoxia pada Covid-19 Masih Belum Bisa Dipastikan Penyebabnya

Dr Arief Bachtiar SPp

Surabaya (beritajatim.com) – Virus Covid-19 masih menjadi pandemi bahkan masih sulit dikendalikan. Terlebih saat ini didapati beberapa kematian pada pasien Covid-19 tanpa gejala dan tanpa Komorbid.

Covid-19 diketahui merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus utamanya menyerang saluran pernapasan. Namun ternyata Covid-19 juga mampu memicu terjadinya Happy Hypoxia yang suatu sindrom untuk tetap merasa nyaman saat terjadi hipoksia atau penurunan saturasi oksigen dalam darah.

Biasanya jika saturasi oksigen dalam darah menurun maka orang tersebut akan merasa pusing, mual, sesak nafas, ngos ngosan hingga pingsan. Tapi pada orang yang mengalami happy hypoxia, dirinya tidak merasakan gejala tersebut hingga mengakibatkan kefatalan.

Menurut Dr Arief Bachtiar SPp, Hypoxia pada Covid-19 bukanlah gejala baru. Karena selain terjadi gangguan pada alveoli, Covid juga bisa menimbulkan suatu tromboemboli yang dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah kapiler.

“Padahal kapiler merupakan saluran untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Jika virus menyerang daerah itu maka terjadi penyumbatan pada proses jalannya oksigen mulai dari masuk saluran napas hingga sampe diedarkan ke seluruh sel tubuh akan bisa menimbulkan hipoksia,” terang Dr Arief, Minggu (23/8/2020).

Saat terjadi hipoksia, secara normal akan menimbulkan respons peningkatan laju pernapasan yang ditandai dengan rasa sesak, lalu peningkatan detak jantung yang tujuannya untuk meningkatkan distribusi oksigen.

“Jika terjadi kasus demikian maka diperlukan suplementasi oksigen, tetapi terdapat anomali dimana pasien tidak merasakan gejala tersebut atau pasien tidak merasakan hipoksia sedang terjadi atau otak tidak merespon tubuh saat terjadi hypoxia. Inilah yang disebut Happy Hypoxia.” ujarnya.

Meskipun demikian, Dr Arief mengatakan bahwa sampai saat ini belum jelas mekanisme Happy Hypoxia terjadi. Sehingga setiap pasien Covid-19 selama ini sesuai protokol penanganan, akan selalu dicek saturasi oksigen dan diberikan suplementasi oksigen.

“Ada dugaan akibat mikrotrombus yang terjadi sehingga menimbulkan ketidakseimbangan antara ventilasi (proses oksigen yang diambil dari udara) dan perfusi (proses distribusi oksigen ke sistem jaringan atau sel). Tetapi ini pun masih dugaan, karena virusnya sendiri juga masih baru dan masih terus diteliti,” tutur Dr Arief.

Ia pun mengatakan bahwa Hypoxia pada Covid-19 sudah diketahui sejak awal, oleh karenanya dokter tidak bisa mempercayai ucapan pasien terkait sesak atau tidak, untuk itu pengecekan saturasi oksigen selalu diperhatikan dan menjadi acuan utama.

Karena mekanisme dan alasan terjadinya Happy Hypoxia belum dapat dipastikan, Dr Arief menghimbau kepada masyarakat yang tidak menjadi pasien Covid-19, untuk terus menjaga dirinya dari kontak langsung dengan orang lain. Karena jika tertular dan terjadi hypoxia tanpa gejala, bisa mengakibatkan kefatalan.

“Mengatasi Covid yang terutama adalah mencegah agar jangan sampai kita tertular oleh karena itu,cara mengatasi Covid pada level masyarakat adalah patuhi protokol kesehatan,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa Hypoxia sendiri bukan khusus terjadi akibat Covid-19 karena semua penyakit yang mengganggu proses jalannya oksigen hingga sampai ke sel akan menimbulkan hypoxia. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar