Pendidikan & Kesehatan

Hand Sanitizer Karya Siswa SMK di Malang Laris Manis Diburu Masyarakat

Hand Sanitizer karya Siswa SMK Prajnaparamitha, Malang.

Malang(beritajatim.com) – Siswa jurusan Farmasi Klinis di Sekolah Menengah Kejuruhan Prajnaparamitha, Malang membuat praktikum hand sanitizer. Praktikum yang awalnya sebagai tugas sekolah kini diburu masyarakat dan diproduksi massal oleh siswa sekolah itu.

Kepala Jurusan Farmasi Klinis SMK Prajnaparamitha, Malang, Deniar Wulandari mengatakan, ide memproduksi massal berawal dari informasi yang menunjukan tingginya pembelian hand sanitizer di apotek. Bahkan, terjadi kelangkaan diborong warga pasca merebaknya virus corona atau Covid-19.

“Akhirnya muncul ide bagaimana hand sanitizer karya siswa ini diproduksi massal. Saat ini kita produksi lagi 500 botol dan terjual semua, kita melayani pesanan dari luar sekolah. Ada juga apotek yang meminta suplay hand sanitizer. Kita dahulukan lingkungan sekolah dulu untuk siswa, guru dan keluarga siswa,” ujar Deniar, Kamis, (5/3/2020).

Deniar menjelaskan hand sanitizer yang diproduksi oleh siswanya berbeda dengan hand sanitizer pada umunnya. Hand sanitizer karya siswa terdiri dari alkohol 96 persen, aquades ditambah aloevera gel, dan diberi geliserin.

Sedangkan hand sanitizer di apotek terdiri dari alkohol 70 persen. Deniar mengatakan sebenarnya dengan alkohol 70 persen bisa membunuh bakteri apalagi virus. Namun, para siswa ini menggunakan alkohol 96 persen untuk memastikan bakteri itu mati, sekaligus menangkal virus corona.

“Dalam sehari dengan massa pengerjaan selama lima jam siswa mampu memproduksi 500 botol. Per botol berisi 60 mililiter cairan hand sanitizer. Di pasaran alkohol 70 persen kita pakai 96 persen efek sampingnya kasar makanya kita kasih aloevera dan geliserin agar tidak kasar di tangan. Sejauh ini tidak ada efek samping lainnya, sedang kita daftarkan ke Dinkes,” kata Deniar.

Deniar menyebut, dari penjualan hand sanitizer per botol siswa mendapat keuntungan 20 persen. 80 persen sisanya digunakan untuk biaya produksi dan perawatan labolatorium. Hingga saat ini sekolah ini masih banjir orderan terutama dari luar daerah bahkan hingga China.

“Order Jakarta, Bali, bahkan China, sepertinya instantsi. Kami belum mengiyakan karena kami juga harus melihat produksi kami. Apalagi mereka ini kan belajar bukan bekerja. Jadi produksi sewajarnya saja tidak mengejar target orderan,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar