Pendidikan & Kesehatan

Hamil Duluan, Mayoritas Pemicu Pernikahan Dini Meningkat di Ponorogo

Humas PA Ponorogo Misnan Maulana(foto/Endra Dwiono).

Ponorogo (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 yang melanda Bumi Reyog tahun lalu, mungkin turut berpengaruh terhadap angka pernikahan dini di Ponorogo. Pada tahun 2020, masyarakat yang mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama (PA) Ponorogo ada 236 perkara. Jumlah tersebut meningkat 100 persen lebih, jika dibandingkan pada tahun 2019 yang hanya 93 perkara.

PA Ponorogo memang tidak mau menyebut kenaikan angka dispensasi nikah di tahun 2020 lalu karena pengaruh pandemi. Namun, jika merujuk data, memang tahun 2020 yang saat itu Ponorogo dilanda pandemi, jumlah pengajuan dispensasi nikahnya meningkat tajam.

“Pengajuan dispensasi nikah tahun lalu memang meningkat lebih dari dua kali lipat. Tahun 2019 hanya 93 perkara, sedangkan tahun lalu naik menjadi 236 perkara,” kata Humas PA Ponorogo Misnan Maulana, Senin (1/2/2021).

Peningkatan jumlah pengajuan dispensasi nikah ini, kata Misnan salah satu faktor penyebabnya adalah naiknya syarat usia perkawinan. Untuk diketahui, sejak awal tahun 2020, usia kawin perempuan naik dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Kebijakan itu berdasarkan undang-undang nomor 16 tahun 2019, yang berisi tentang Perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Dengan demikian, usia kawin perempuan dan laki-laki sama-sama 19 tahun.

“Otomatis perubahan usia kawin perempuan itu salah satu yang memicu peningkatan perkara dispensasi nikah yang masuk,” ungkapnya.

Misnan menyebut pengajuan dispensasi nikah dari wali atau orang tua yang menikahkan, alasannya kebanyakan karena anak yang dinikahkan ini sudah terlibat hubungan badan layaknya suami istri. Ada yang sudah telat menstruasi beberapa bulan. Bahkan ada yang perutnya membesar karena sudah mengandung.

“Nuwun sewu (minta maaf), hampir penyebab utama pengajuan dispensasi nikah ini karena hamil duluan. Ya memang ada alasannya bukan itu, tetapi tidak banyak,” katanya.

Banyaknya anak usia dini yang sudah berbadan dua ini, Misnan menilai karena perilaku individu yang didukung dengan kemajuan teknologi. Mungkin ada perubahan persepsi, bahwa seakan-akan bergaul bebas itu semakin longgar. Maka, Dia menilai kontrol sosial lingkungan sangat penting dilakukan.

“Mungkin pembatasan jam malam di lingkungan atau penyuluhan dari tokoh masyarakat dalam mengontrol pergaulan,” pungkasnya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Resep Nasi Aladin Khas Timur Tengah

Resep Sup Kikil, Gurih dan Empuk

Sup Ikan, Menu Berbuka Puasa Bergizi Tinggi