Pendidikan & Kesehatan

Hafiz Asal Mojokerto Ini adalah 1 dari 27 Hafiz yang Lolos Seleksi Imam Masjid Besar di Uni Emirat Arab

Rahmat Alfian Hidayat. [Foto: dok pribadi]

Mojokerto (beritajatim.com) – Rahmat Alfian Hidayat, hafiz atau penghafal Al-Qur’an asal Desa Sedati, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, satu dari 27 peserta yang dinyatakan lolos seleksi imam luar negeri. Pria kelahiran 22 Juli 1994 ini, lolos menjadi Imam Masjid Besar di Uni Emirat Arab (UEA).

Ditemui di rumahnya, lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar Rahmah Surabaya, Prodi Manajemen Dakwah ini mengaku, mengikuti tahapan seleksi yang digelar di Jakarta pada bulan November 2020. Ada 205 penghafal Al-Qur’an yang mendaftar seleksi calon imam saat itu.

“Alhamdulillah berkat doa dan pendidikan yang saya tempuh selama empat tahun di STIDKI Surabaya, melalui tes untuk seleksi imam saya lalui dengan cukup baik. Memang cita-cita saya sejak dari kecil ingin dakwah di luar negeri,” ungkapnya, Kamis (29/4/2021).

Dari 205 hafiz yang mendaftar seleksi calon imam tersebut, delapan orang hafiz diantaranya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di luar negeri. Dari 205 orang hafiz yang mengikuti seleksi tersebut, 27 orang hafiz dinyatakan lulus. Salah satunya, Rahmat Alfian Hidayat.

Keputusan tersebut tertuang dalam surat yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab di Abu Dhabi bernomor B-00166/Abu Dhabi/210414 tanggal 14 April 2021 tentang Hasil Seleksi Imam Asal Indonesia.

“Tes ada beberapa, tes pertama tentang kelancaran menghafal Al Quran 30 jus serta baik tidaknya bacaan Al-Quran tersebut dan juga bacaan fiqih. Pendalaman ilmu fiqih dan kemampuan berkhotbah dalam bahasa Arab. Seleksi ini dilakukan bertahap dari Kemenag RI dan dari UEA datang langsung ke Indonesia,” katanya.

Santri Pondok Pesantren (ponpes) Umar Bin Khatab Surabaya menjelaskan, salah satu syarat menjadi Imam Masjid UEA adalah hafal Al-Qur’an 30 juz dan fasih berbahasa Arab. Alfian mengaku mulai menghafal Al-Qur’an sejak dirinya berusia 15 tahun dan masuk di Ponpes Umar bin Khatab.

“Dalam kurun waktu 2 tahun, saya berhasil menuntaskan hafalan Al Qur’an 30 juz. Saya khatam juga di Pondok Umar bin Khatab, saya pindah ke Pondok Ibnu Ali Surabaya dan melanjutkan pendidikan di STIDKI) Ar Rahmah Surabaya, Prodi Manajemen Dakwah. Sekarang sudah selasai semuanya, tinggal menunggu wisuda saja,” jelasnya.

Alfian berharap, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur khususnya Gubenur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa selaku pengiat Al Qur’an dan pemerhati hafizh dan hafizha yang ada di Jawa Timur bisa mendukung dan suport keberangkatan para calon Imam Masjid Besar di UEA.

“Dari 27 calon imam yang lolos ini, Jawa Timur menjadi provinsi terbanyak dari sejumlah provinsi di Indonesia yang ikut seleksi. Rencananya, bulan Juni nanti kami akan berangkat dan harapannya Bu Gubenur bisa mendukung dan mensupport kami,” harapnya.

Alfian menambahkan, selain ingin mencari pengalaman dan berdakwah di negara Arab, ia juga ingin mencari ilmu yang lebih. Sehingga kedua orang tua sangat mendukung dan selalu mendoakan yang dilakukan hingga berhasil lolos menjadi Imam Besar Masjid di UEA.

“Orang tua mendoakan dan mendukung, yang penting baik dan berguna untuk agama dan bangsa. Alhamdulillah, perasaan saya senang saat tahu lolos dan kita kesana memang untuk berdakwah dan membawa nama Indonesia di kancah internasional,” tegasnya.

Alfian memiliki segudang prestasi seputar Al-Qur’an. Antara lain, dua kali Juara 1 MTQ Jawa Timur cabang Hafalan dan Tafsir Al Qur’an dalam bahasa Inggris pada tahun 2017 dan 2019 dan Juara 3 MHQ 30 juz tingkat Jawa Timur tahun 2020. [tin/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar