Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

GMNI Surabaya: Mahasiswa Harus Punya Perspektif Global

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Refi Achmad Zuhair mengatakan, mahasiswa Indonesia kini harus mempunyai perspektif global. Menurutnya, cepatnya arus informasi harus bisa memacu mahasiswa untuk mengikuti isu global.

“Kini kita masuk dalam era globalisasi dan digitalisasi. Arus informasi semakin deras, sehingga kita mudah untuk mengakses informasi dari seluruh dunia dengan cepat,” katanya setelah agenda diskusi DPC GMNI Surabaya “Membedah Konflik Rusia-Ukraina” di Warkop Berkah Seduluran, Menanggal, Surabaya, Minggu (6/3/2022).

Refi sapaan akrabnya menyebut mahasiswa yang memperkaya perspektif secara global, buka berarti mahasiswa akhirnya menyampingkan isu lokal. Menurutnya, ini merupakan tantangan untuk berpikir secara global dan diterapkan dalam konteks lokal.

“Diskusi tentang konflik Rusia-Ukraina sore hari ini harapannya bisa mendorong mahasiswa, utamanya kader GMNI, untuk lebih memperkaya khazanah keilmuan sekaligus menguatkan critical thinking,” katanya.

“Dengan keilmuan yang memadai, mahasiswa akhhirnya punya bekal dalam menjalankan perannya saat ini, hingga memasuki kehidupan pasca perkuliahan,” tambahnya.

Sementara itu, Arief Setiawan narasumber diskusi yang juga Akademisi Hubungan Internasional (HI) Universitas Brawijaya (UB), menegaskan bahwa Indonesia harus segera mendorong kedua negara untuk berdamai. Jika tidak bisa, Indonesia dinilai harus mengambil langkah mencegah agar jangan ada negara lain yang terlibat dalam konflik ini.

Arief mengingatkan Indonesia punya hubungan spesial dengan Rusia sejak era Bung Karno. Indonesia punya sejarah panjang dengan Rusia dan Indonesia juga masih dibutuhkan oleh mereka. Apalagi, warga Rusia menilai Indonesia adalah saudara muda mereka.

“Banyak lagu Indonesia yang diterjemahkan ke Bahasa Rusia dan menjadi lagu hits di negara tersebut. Bahkan pada tahun 2014 ada 7 kampus di Rusia yang membuka Program Studi Bahasa Indonesia,” kata Arief.

Arief menambahkan kedekatan historis inilah yang harus dimanfaatkan Indonesia dengan cara melakukan lobi yang tidak mengancam. “Sebab jangan sampai Indonesia mengeluarkan pernyataan yang justru memanaskan situasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi DPC GMNI Surabaya Fauzi Indra, mengatakan bahwa diskusi bukan sekedar ajang untuk berbagi ilmu pengetahuan.

“Diskusi bisa melatih mahasiswa agar bisa belajar berargumentasi, sehingga menjadi tertantang untuk memperbanyak pengetahuan,” katanya.[asg/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar