Pendidikan & Kesehatan

Gandeng EMCL, Unigoro Dampingi Masyarakat Sekitar Blok Cepu Kembali Bertani

Kegiatan diseminasi program Sekolah Lapang Pertanian

Bojonegoro (beritajatim.com) – Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) mendampingi masyarakat sekitar lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu untuk kembali bertani.

Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina Rachmawati mengatakan, sesuai dengan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 menunjukkan bahwa regenerasi profesi petani mengalami penurunan yang signifikan, yakni sekitar 12,6 persen.

“Jumlah rumah tangga petani yang ada di Bojonegoro sesuai sensus BPS sebanyak 0,3 persen dari total petani yang ada, dan didominasi 62 persen petani dengan usia di atas 54 tahun,” ujarnya, Kamis (26/9/2019).

Kondisi penurunan aktivitas pertanian di sekitar lapangan migas ini karena ada industrialisasi migas. Selain itu, kata dia, petani masih menggunakan sistem pertanian konvensional. Sehingga dengan adanya diseminasi program Sekolah Lapang Pertanian diharapkan bisa mengembalikan kesejahteraan ekonomi petani.

“Sekolah lapang pertanian kerjasama Unigoro bersama dengan EMCL, sebagai operator Lapangan Migas Banyu Urip ini sebagai komitmen pengembalian ekonomi petani,” jelasnya dalam acara Diseminasi Program Sekolah Lapang Pertanian 2019, di Hotel GDK.

Dalam program tersebut ada pendampingan bagi petani yang memiliki lahan pertanian di sekitar pagar Blok Cepu. Selain itu juga program petani remaja atau taruna tani. Taruna tani fokus pendampingan optimalisasi pekarangan yang tidak produktif bisa digunakan menanam tumbuhan yang menarik atau tidak umum.

“Dari pendampingan petani ini ada peningkatan hasil 15 persen. Tapi yang menjadi PR besar sekarang regenerasi petani, hal ini tidak akan pernah berhasil selama tidak bisa menunjukkan roll model petani yang sejahtera,” urainya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro, Arief Januarso mengatakan, dalam program ini hal yang ditekankan yakni penerapan biopori di sawah, penekanan biaya produksi petani, dan upaya mengurangi hama pertanian. “Sehingga diharapkan bisa meningkatkan penghasilan petani,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, Diseminasi Program Sekolah Lapang (PSL) diikuti oleh sejumlah petani di Desa Bonorejo, Brabowan, Gayam dan Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar