Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Di Hadapan Kepala SDN

FPRB Jombang Beberkan Konsep Sekolah Aman Bencana

Pengurus FPRB Jombang saat sosialisasi pengurangan risiko bencana di hadapan Kepala SD di aula Disdikbud setempat

Jombang (beritajatim.com) – Upaya pengurangan risiko bencana terus dilakukan oleh FPRB (Forum Pengurangan Risikan Bencana) Kabupaten Jombang. Lembaga ini melakukan sinergitas dengan sejumlah pihak, salah satunya dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang.

Materi yang disosialisasikan adalah perlunya pembetukan sekolah aman bencana (SAB), utamaya di kawasan yang memiliki ancaman bencana cukup tinggi. “Semisal sekolah yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Sekolah tersebut memiliki potensi ancaman bencana banjir,” kata Sekretaris FPRB Jombang Amik Purdinata, Minggu (26/9/2021).

Amik menjelaskan, pengurus FPRB Jombang sudah bertemu dengan jajaran di Disdikbud Jombang beberapa waktu lalu. Selain mengenalkan FPRB yang dikukuhkan pada 31 Juli 2021, pihaknya juga memetakan sembilan ancaman bencana yang ada di Jombang. Mulai banjir, kekeringan, gempa bumi, cuaca ekstrim, hingga bencana lainnya.

Walhasil, dalam kesempatan itu, FPRB Jombang juga diberi kesempatan menyampaikan pentinganya sekolah aman bencana di hadapan kepala SDN (Sekolah Dasar Negeri) di Kecamatan Perak dan Mojoagung. Pertemuan dilangsungkan di aula Disdikbud setempat.

“Salah satu langkah preventif yang dilakukan guna mengurangi risiko bencana dan melindungi anak saat kegiatan belajar mengajar berlangsung pada satuan pendidikan yaitu dengan adanya program sekolah aman bencana,” kata Amik menegaskan.

Ketua FPRB Jombang dr Agung Sugiharto Masrum saat menyampaikan materi

Sekretaris FPRB Jombang ini menjelaskan, sekolah aman bencana mencakup tiga pilar utama. Yakni, fasilitas sekolah aman, manajeman bencana di sekolah, dan pendidikan pencegahan. Pilar pertama mencakup pemilihan lokasi madrasah/sekolah, standar bangunan, standar kinerja, serta desain yang aman terhadap bencana.

Selanjutnya, pilar kedua mencakup pengkajian dan perencanaan perlindungan fisik dan lingkungan,
keterampilan dan perlengkapan respon, adanya perwakilan komite manajemen bencana di sekolah, adanya rencana keberlanjutan pendidikan, dan adanya prosedur tetap (protap).

“Pilar yang ketiga pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana yang terintegrasi ke dalam kurikulum formal, lalu adanya pelatihan guru dan pengembangan staff, dan adanya ekstrakurikuler dan pendidikan informal berbasis-masyarakat,” pungkasnya. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar