Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

FK Unair dan Kemenkes Dorong Percepatan Pengobatan Penyakit Genetik Berbasis Karakter Pasien

Surabaya (beritajatim.com) – Penyakit genetik menjadi salah satu masalah kesehatan yang dihadapi di Indonesia. Angka cukup banyak disumbang oleh Diabetes melitus (kencing manis) dan kanker yang sangat berpotensi pada kematian.

Tetapi, saat ini penanganan terkait penyakit-penyakit genetik sudah berkembang dan dilakukan jika sudah masuk kondisi kegawatan. Pencegahan pun dilakukan dalam konteks pemahaman universal.

Sedangkan penyakit genetik cenderung memerlukan penanganan presisi sesuai karakter pasien yang memiliki carier-nya.

Untuk menghadirkan penanganan presisi bagi masyarakat, InaSHG-ISGC dan FK Unair menggelar The 1st Indonesian Society of Genetic Counselors (ISGC) Conference dan The 3rd Indonesia Society of Human Genetic (InaSHG) Annual Meeting di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Dua pertemuan secara bersama itu difokuskan pada percepatan program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi).

Dua pertemuan ilmiah tersebut menghadirkan 45 pembicara ahli genetika dalam maupun luar negeri. Dekan Fakultas Kedokteran Unair, Budi Santoso mengungkapkan, target pengobatan berbasis genetika adalah precision medicine initiative.

“FK Unair terus terstimulasi untuk maju dalam hal genetika, nantinya pengobatan-pengobatan penyakit genetik sudah harus bersifat individual, disesuaikan dengan gen masing-masing pasien,” ujar Budi kepada beritajatim.com.

Presiden InaSHG, Gunadi menerangkan, precision medicine initiative untuk pasien-pasien penyakit genetik ditunjang dengan teknologi pengumpulan informasi genetik (genom) dari manusia maupun patogen seperti virus dan bakteri. Metode yang lebih dikenal dengan Whole Genome Sequensing (WGS) mampu mendeteksi patogen dan mutasi genetik dengan tingkat akurasi yang tinggi.

“Metode WGS akan dimanfaatkan untuk penelitian pengembangan pengobatan pada enam kategori penyakit utama lainnya, yaitu cancer, psoriasis, duchenne muscular dystrophy, stroke, diabetes, dan polimorfisme,” kata Gunadi.

Program BGSi dilaksanakan di tujuh rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan. Mulai dari RSUP Cipto Mangunkusumo, RS Pusat Otak Nasional Mahar Mardjono, RSPI Sulianto Saroso, RSUP Persahabatan, RS Kanker Dharmais, RSUP Sardjito, hingga RS Prof I.G.N.G. Ngoerah.

Saat ini hanya terdapat 12 mesin WGS di Indonesia. Untuk mendukung berjalannya BGSi, Kemenkes menambah 48 mesin yang akan disebar di berbagai rumah sakit rujukan nasional yang terlibat dalam BGSi.

Seluruh rumah sakit tersebut akan dilengkapi dengan mesin-mesin sequencing high throughput yang mampu memproses ratusan sampel genom manusia setiap pekan. Sedangkan dalam dua tahun ke depan ditargetkan ada 10 ribu genome sequences manusia yang terkumpul.

Sampel genome sequencing diteliti untuk pemetaan varian data genom dari populasi penduduk Indonesia dengan penyakit prioritas yang telah ditentukan sebelumnya. [adg/beq]

Apa Reaksi Anda?

Komentar