Pendidikan & Kesehatan

Usung Tema Gender

Film Pendek Karya Mahasiswa UK Petra Juara Tingkat Nasional

Surabaya (beritajatim.com) – Mengusung Kesetaraan Gender, Film Pendek karya mahasiswa UK Petra berhasil menyabet juara 1 kategori mahasiswa dan juara 2 umum.

Film pendek itu diberi judul Re-Dream dilombakan untuk Film Pendek Tingkat Nasional ini digelar oleh Gerakan Muda Ono Niha (GEMONI) dengan tema “Nasionalisme Berkebudayaan dan Berkeadaban” yang didukung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia dan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI.

Tujuh mahasiswa pengkreasi Re-Dream tergabung dalam Champz Production. Terdiri dari Johanes Yudi Prihadi (Program Business Management), Geraldo Vincent Chandra (Prodi Manajamen Perhotelan), Nicholas Jason Santosa (Prodi Desain Komunikasi Visual), Jerico Sasmita Adi (Program International Business Management), Josephine (Prodi Ilmu Komunikasi), Natasha Amabel (Program Sistem Informasi Bisnis) dan Stanley (Program Business Management).

“Puji Tuhan, kelompok kami menang. Saya sangat senang. Dari awal saya hanya menduga film kita paling masuk 10 besar terbaik saja akan tetapi ternyata hasilnya diluar dugaan. Juara 1 dan dapat tambahan juara. Film kita mendapat apresiasi. Padahal kami hanya menggunakan peralatan seadanya milik pribadi kami semua,” ungkap Johanes, mahasiswa angkatan 2019.

Film pendek ‘Re-Dream’ berdurasi 14 menit 54 detik ini bercerita mengenai kesetaraan gender. Pria dan wanita mempunyai hak yang sama. Punya derajat yang sama terutama daam hal pekerjaan. “Tidak selamanya stigma perempuan yang setelah lulus kuliah harus menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Perempuan bisa menggapai cita-cita yang tinggi,” ungkap Johanes yang menjadi sutradara.

Luar biasanya mereka melakukan syuting hanya dalam satu hari saja, dari pagi hingga malam. Proses editing memakan waktu tiga hari lamanya. Tujuh mahasiswa UK Petra ini selain menjadi pemain juga ambil bagian sebagai tim produksi. Amabel, Josephine, Stanley, Nicholas, Hanes dan Geraldo berperan sebagai pemain. Sedangkan Sutradara dipegang oleh Johanes. Sedangkan kameramen dan produksi dipegang oleh Nicholas, Johanes dan Jerico.

Awalnya Nicholas, Johanes dan Jerico membuat naskah terlebih dahulu kemudian membuat karakter orang hingga membuat alur cerita. Ini semuanya mereka lakukan dari pagi hingga malam. Setelah jadi baru mereka membuat open casting untuk pemainnya yang cocok dengan karakter cerita.

“Misalkan karakter pria umur berapa, kemudian butuh karakter preman yang bagaimana. Tak lupa juga karakter wanita mudanya seperti apa,” rinci Johanes.

Johanes dan kawan-kawan pun mengalami beberapa kendala. Pandemi Covid-19 membuat mereka kesulitan mendapatkan lokasi syuting dan pemain film. Tapi hal ini tak menyurutkan langkah mereka untuk membuat karya film. Karya mereka dinilai oleh lima dewan juri yang handal yaitu Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Dr. Hilmar Farid; Aktor dan Sutradara Senior Rano Karno, artis dan Sutradara Senior Jajang C. Noer, Direktur AMAN (Asian Muslim Action Network) Indonesia Ruby Kholifah dan Musisi/Seniman/Budayawan Yasato Harefa.

Tak sia-sia, prestasi juara 1 kategori mahasiswa mendapatkan uang Rp 10 juta dan Throphy. Sedangkan juara 2 umum mendapatkan dana pembinaan sebesar Rp 1 juta dan thropy dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI dan Ketua Dewan Pembina Germoni.

“Kedepannya kami akan mencoba kompetisi festival indonesia. Kami akan mencoba menjadi yang terbaik agar karya anak bangsa dikenal masyarakat luas dan kami sudah ada tim inti di kampus,” tambah Jerico dan Nicholas. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar