Pendidikan & Kesehatan

Film Anak Krisis Konten, Sineas Muda Gelar Pesta Film Anak

Malang(beritajatim.com) – Industri film anak-anak saat ini sedang mengalami krisis konten. Melalui praktikum 1 Audio Visual Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Pesta Film Anak, sebagai bentuk apresiasi karya film yang konsen pada konten positif.

“Anak-anak saat ini telah terkontaminasi dengan perkembangan teknologi juga internet. Kecenderungannya, konten yang terdapat di internet negatif dan sulit dikontrol. Melalui film, kami dapat menyajikan berbagai film berkonten positif. Tujuannya tidak cuma sebagai tontonan tapi juga tuntunan,” kata Ketua Pelaksana, Mella Dwi Purnama, Kamis, (27/6/2019).

Bentuk acaranya yakni berupa penayangan perdana film-film karya mahasiswa praktikum audiovisual 1 prodi Ilmu Komunikasi. Gelaran ini bertemakan, Museum Anak: Tempo Dulu.

“Maksud dari tema ini yakni mengajak para penonton, anak-anak maupun remaja, untuk bernostalgia dengan berbagai hal di masa lampau,” ujar Mella.

Menurutnya, pesta film sebagai ajang memperkenalkan bagaimana cara anak-anak tempo dulu bersosialisasi. Tidak seperti sekarang yang kecenderungannya membuat anak-anak dan remaja memiliki jiwa individualis.

“Selain itu, kita juga mengeksplorasi hal-hal di masa anak-anak tempo dulu, mulai dari permainan, makanan dan lainnya,” imbuhnya.

Sedikitnya sembilan film ditayangkan di hadapan anak-anak seusia sekolah dasar dan remaja. Pasca ditayangkan, para sineas juga diminta membagikan pengalamannya di balik proses pembuatannya. Acara ditutup dengan penganugerahan penghargaan untuk berabagai kategori. Di antaranya ide cerita terbaik, hingga soundtrack terbaik.

Sembilan kelompok yang unjuk gigi karya filmnya yakni Sam Depok dengan karya “The Sacred Tree”, Pine Film dengan karya “Super Sayur”, Gawe Pilem dengan karya “Jangkrik”, Sudut Pandang Sinema dengan karya “Kelaran”, Dialektika dengan karya “Paku dalam Botol”, Foremost Film dengan karya “Selimut Ashgaf”, Miwiti dengan karya “Pangkur”, Sakelas Production dengan karya “Surup” serta Back to Basic dengan karya “Sehari Saja”.

Back to Basic jadi pemenang Ide Cerita Terbaik mengisahkan Aqila, anak perempuan 9 tahun yang tinggal bersama ibunya. Suatu hari, ibunya marah kepada Aqila karena ia bangun kesiangan, mereka pun beradu argumen, Aqila merasa menjadi orang tua itu mudah, sedangkan ibunya merasa tidak ada hal yang rumit menjadi anak kecil.

Hingga satu kejadian, membuat keduanya tertukar jiwa. Tubuh Aqila dengan jiwa ibunya dan sebaliknya. Dari kejadian itu, mereka mendapatkan banyak pelajaran berharga yakni tentang saling menghargai dan menghormati. Keduanya menyadari bahwa tidak mudah menjalani peran jadi seorang single parent dan siswa kelas 5 SD.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UMM, Himawan Sutanto, M.Si menyebut, masa anak-anak adalah masa di mana mereka menirukan banyak hal. “Melalui perhelatan Pesta Film Anak ini, kita ingin mewujudkan generasi kita menjadi generasi yang sehat. Tidak hanya fisiknya, tapi juga jiwa dan pengetahuannya,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar