Pendidikan & Kesehatan

Expressive Writing Therapy Bantu Anak Korban Perceraian Orang Tua

Surabaya (beritajatim.com) – Perceraian sering kali menyisakan luka yang mendalam, terutama untuk anak anak. Pasalnya trauma pasca perceraian acap menyerang anak-anak, khususnya remaja.

Remaja dengan orangtua yang bercerai akan cenderung memiliki permasalahan psikis lebih banyak daripada remaja pada umumnya. Misalnya tidak mudah bergaul dengan teman sebaya, sulit terbuka dengan orang lain, trauma terhadap tindak kekerasan yang pernah dilakukan orangtua sebagai bahan pelampiasan hingga mengalami depresi dan ingin mengakhiri hidup.

Berangkat dari hal tersebut, Pipit Desi Ratnasari, mahasiswa Fakultas Psikologi Universiats 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya tertarik melakukan penelitian untuk membantu remaja korban perceraian.

“Awalnya sih prihatin dari lingkungan sekitar dimana banyak sekali perceraian, namun akhirnya saya memilih objek penelitian dengan 10 remaja korban penceraian dari Save Street Children (SSC) Surabaya dengan rentang usia 10 sampai 19 tahun,” papar Pipit.

Melihat remaja dengan orangtua yang bercerai memiliki kecenderungan susah terbuka dengan orang lain serta penerimaan diri, Pipit memilih menggunakan metode terapi expressive writing therapy.

Metode expressive writing therapy sendiri merupakan kegiatan terapi yang berguna untuk mengekspresikan perasaan sedih atau senang serta pengalaman terpendam lain karena sulit diungkapkan kepada orang lain.

Mahasiswi asal Blitar itu menjelaskan, “mereka ini susah sekali terbuka pada orang lain, jadi masalah yang mereka hadapi disimpan sendiri dan mengakibatkan depresi. Jadi pada penelitian ini saya berikan mereka buku semacam diary dan minta untuk menuliskan pengalaman mereka.”

Pada awal terapi, lanjut Pipit, kebanyakan dari remaja ini mengalami kesulitan menuliskan pengalaman mereka. “Jadi perlu pendampingan dulu,” imbuhnya. Metode yang ia gunakan juga tidak hanya menulis, melainkan juga menggambar. “Bisa lewat menulis atau menggambar, sesuka mereka dulu,” tuturnya.

Lambat laun, hasil penelitian Pipit pun terlihat. 10 remaja korban perceraian tersebut mulai membuka diri pada orang baru, utamanya pada dirinya. Setiap mengikuti sesi terapi, masing-masing remaja mulai mudah berbagi pengalaman traumatisnya. “Bahkan tanpa perlu ditanya, mereka sudah cerita sendiri,” terangnya.

Pada penelitian yang ia beri judul “Efektifitas Expressive Writing Therapy untuk Menurunkan Trauma dan Mengejutkan Self-Acceptance Pada Remaja Korban Perceraian Orang Tua” itu, Pipit menyimpulkan bahwa metode expressive writing therapy efektif menurunkan trauma dan meningkatkan self-acceptance pada remaja yang menjadi korban perceraian orangtua. Hingga saat ini Pipit mengaku masih mendampingi 10 remaja yang menjadi objek penelitiannya itu.

“Saya buatkan grup whatsapp untuk mereka saling cerita juga. Karena sebenarnya mereka ini juga punya banyak potensi,” ungkap Bungsu dari 4 bersaudara itu. (ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar