Pendidikan & Kesehatan

Terkait Polemik Data Covid-19 di Jatim

Eri Cahyadi: Adakah yang Berani (Buka) Data Itu Kalau Tidak Surabaya?

Surabaya (beritajatim.com) – Polemik transparansi data Covid-19 di Jawa Timur terus menggelinding. Salah satu yang disorot adalah beda data kematian di Surabaya yang diumumkan Pemkot Surabaya cukup besar, sedangkan di data yang dipublikasikan Pemprov Jatim cukup minim.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, sejak awal Pemkot Surabaya selalu transparan dalam menyampaikan data ke publik. Melalui situs lawancovid-19.surabaya.go.id, semua data dibuka apa adanya, termasuk pemakaman dengan standar protokol kesehatan.

“Kita buka semua di lawancovid-19.surabaya.go.id, data A sampai Z penanganan Covid-19 di Surabaya. Termasuk data pemakaman dengan prokes, ada 3.800-an. Adakah daerah yang berani (buka) data itu kalau tidak Surabaya?,” kata Eri Cahyadi, Selasa (3/8/2021).

Pada data di kanal lawan covid19 yang ada di website Pemkot Surabaya, data pemakaman dengan prokes memang ditampilkan. Sempat mencapai di atas 100 kematian per hari, kini tren pemakaman prokes mulai melandai.

“Kita tampilkan, tidak ada yang ditutupi, itu yang pemakaman dengan prokes,” tegasnya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

Penanganan Covid-19 di Surabaya kembali mendapat perhatian publik setelah ramai polemik data Covid-19 di Jatim. Bagaimana cara Pemkot Surabaya menangani pandemi ini?

Dari rangkuman media, selain memasifkan vaksinasi, setidaknya ada lima langkah krusial yang digeber Wali Kota Eri. Pertama, salah satu yang menonjol di Surabaya adalah gencarnya testing dan tracing. Bahkan, testing di Surabaya termasuk yang tertinggi di Indonesia. Data per 3-19 Juli, Surabaya mencapai 99,34 persen target tes sesuai yang diinstruksikan pemerintah pusat. Tracing juga ditargetkan tuntas dalam 1×24 jam.

”Mengapa tes penting? Agar segera bisa dilakukan treatment bila ditemukan kasus positif. Sehingga potensi penularan dan pemburukan kondisi pasien bisa diminimalkan. Jadi bagi kami: angka Covid-19 naik itu bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi, tapi karena kita terus perluas tes dan tracing, agar sedini mungkin dilakukan treatment,” tulis Eri Cahyadi di Instagramnya, @ericahyad_.

Kedua, penyiapan “Rumah Sehat” di setiap kelurahan untuk fasilitas isolasi warga. Hal itu dilakukan untuk memutus potensi penularan lokal di tingka keluarga sekaligus mengurangi potensi pemburukan pasien karena di Rumah Sehat selalu dipantau petugas kesehatan.

Ketiga, mengoperasikan tambahan RS Darurat, yaitu RS Lapangan Tembak (Kedung Cowek) dan RS GOR Gelora Bung Tomo.

Keempat, menggalang gerakan “Surabaya Memanggil” yang berhasil merekrut ribuan relawan untuk berbagai tugas kemanusiaan, mulai petugas vaksinasi, edukasi protokol kesehatan, pengemudi ambulans, tenaga pemulasaran, dan sebagainya.

Kelima, memfasilitasi percepatan layanan pemulasaran jenazah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih. Pemkot Surabaya menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pemulasaran jenazah, mulai dari modin dan pemandian beserta kebutuhan lainnya. Hal itu dilakukan karena sejumlah warga harus menunggu berjam-jam untuk proses pemulasaran jenazah di rumah sakit, karena jumlah warga yang meninggal meningkat.

”Alhamdulillah, untuk umat Islam, teman-teman NU dan Muhammadiyah menyiapkan relawan yang mempunyai kemampuan merawat jenazah. Jadi mulai memandikan, menyalati, hingga dimakamkan bisa dilakukan di TPU Keputih langsung khusus untuk pasien Covid-19 warga Surabaya. Dan yang terpenting: tidak harus menunggu berjam-jam proses pemulasaran di rumah sakit,” tulis Eri di Instagram-nya.

“Sedangkan bagi yang non-muslim, kami siapkan peti dan petugas khusus untuk merawat jenazah,” imbuhnya. [way/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar