Pendidikan & Kesehatan

Epidemiolog UB Sebut Pemberlakuan Jam Malam PPKM Kurang Efektif

Wali Kota Malang, Sutiaji saat melakukan operasi penertiban PPKM.

Malang(beritajatim.com) – Penerapan jam malam sejak pukul 20.00 WIB saat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa Bali dianggap kurang efektif. Sebab, Covid-19 tidak mengenal waktu. Mobilitas masyarakat saat PPKM lah yang harus dikendalikan agar penerapan PPKM berjalan efektif.

“PPKM masih setengah-setengah. Karena kita lihat mobilitas orang juga masih tinggi. Ada jam malam, tapi siang hari ramai. Padahal, penyebaran virus itu tidak kenal waktu tidak hanya di malam hari saja,” kata Epidemiolog Universitas Brawijaya (UB) Malang, dr. Holipah, Selasa, (2/2/2021).

Holipah mengatakan, agar PPKM berjalan dengan baik. Hal yang harus diprioritaskan adalah menekankan pentingnya protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan ketat. Lalu mobilitas masyarakat harus dibatasi. Perkantoran sebagai tempat berpotensi menjadi klaster harus dipastikan work from home (WFH) sebesar 75 persen.

“Saya lihat dalam hal ini tidak ada sanksi tegas. Buktinya tidak semua kantor berlakukan WFH. Yang melakukan hanya kantor pemerintahan. Kalau misalnya masih begini-begini aja ya walaupun ada jilid berapapun ya akan tetap aja kondisinya seperti ini. Harus ada sanksi lebih tegas,” papar Holipah.

Holipah mengatakan, penerapan di lapangan harus singkron. Caranya kebijakan dan kesadaran masyarakat harus berjalan lurus. Menurutnya, perlu upaya lebih massif dalam menumbuhkan kesadaran melalui edukasi pentingnya kesadaran protokol kesehatan.

“Kesadaran bisa tumbuh sendiri tanpa paksaan. Ini bisa dilakukan melalui pendekatan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat. Dari elemen terbawah mulai RT RW di desa-desa,” tandasnya. (Luc/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar