Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Motivasi Santri dalam Ngaji Optimisme

Dr Arrazy Hasyim Bagikan Kisah Imam Bukhari

Dr Buya Arrazy Hasyim (kiri), memberikan motivasi dalam Ngaji Optimisme pada ajang internasional Pekan Ngaji 7 Pesantren Bata-Bata, Rabu (5/1/2022) malam.

Pamekasan (beritajatim.com) – Dr Buya Arrazy Hasyim membagikan kisah singkat perjalanan hidup Imam Bukhari, saat diplot sebagai pemateri Ngaji Optimisme pada ajang internasional Pekan Ngaji 7 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasanh, Rabu (5/1/2022) malam.

Bahkan dalam kesempatan tersebut, Dr Arrazy juga menceritakan masa kecil Imam Bukhari yang sempat menderita ‘tunanetra’ atau tidak dapat melihat. Namun akhirnya dapat kembali melihat berkat munajat sang ibunda tercinta.

Bahkan saat masih usia kanak-kanak yang sudah ditinggal sang ayah wafat, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari juga diminta oleh sang ibunda agar belajar dan memahami agama sesuai anjuran dari Nabi Ibrahim ‘Alaihi al-Salam, yang didapatnya melalui mimpi.

Padahal pada saat itu, Bukhari kecil hanya ingin sekali dapat melihat dan bermain bersama teman sebayanya. Namun sang ibu berkehendak lain dan justru mendorong sang anak untuk belejar memahami ilmu agama sesuai dengan ajaran agama Ibrahim, yakni agama Islam.

“Meskipun penglihatanmu dikembalikan oleh Allah, hal itu bukan untuk tujuan main-main. Tapi itu hadiah dari Nabiyullah Ibrahim, sehingga kamu harus belajar dan mendalami agama Ibrahim (Islam),” kata Arrazy, menceritakan ungkapan sang ibu kepada Bukhari kecil.

Sejak kecil, sosok Bukhari memang dididik dalam keluarga yang taat beragama. Bahkan sang ayah, Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah, juga dikenal sebagai seorang wara‘ (berhati-hati dalam hal subhat). Ia merupakan seorang ulama bermadzhab Miliki dan merupakan murid dari Imam Malik, ulama besar dan ahli fiqhih.

Semasa di kampung halaman, Bukhari kecil berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadis yang masyhur di Bukhara. Selanjutnya ia berkunjung ke Makkah dan Madinah, guna mengikuti berbagai kajian guru besar ilmu hadits. Terlebih dalam usia yang relatif muda, Bukhari kecil sudah dapat menghafal sekitar 10 ribu hadits dalam rentang waktu satu tahun.

“Perlu dijadikan sebagai catatan, ada satu hadits yang sangat familiar bagi kalangan santri, di mana Imam Bukhari memastikan keshahian hadits ini dalam waktu sekitar 2 bulan, yakni hadits Innama Al-A’malu bi Al-Niat,” unykapnya.

Bahkan dalam kesempatan tersebut, Imam Bukhari juga dengan gigih mencari sumber hadits dari ulama yang memang kompeten di bidang hadits, termasuk salah seorang murid Imam Syafi’i, Abdullah bin Zubair. Namun Abdullah bin Zubair tidak mendengar sendiri, tetapi justru mendengar dari gurunya.

“Untuk memastikan keshahian hadits, tidak serta merta ditulis tanpa dasar sumber yang jelas dan tentunya kompeten. Sehingga dari sekilas ini dapat dijadikan sebagai gambaran optimisme para kita ulama terdahulu, hal ini yang harus kita contoh sebagai motivasi bagi generasi saat ini,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr Arrazy juga menceritakan berbagai kisah motivasi dari para ulama terdahulu. Sekaligus memberikan gambaran kepada para santri untuk selalu berhikmad memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi mastarakat secara luas. [pin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar