Pendidikan & Kesehatan

Dosen Unair Jadikan Tulang Lunak Sotong Sebagai Pengisi Defect Tulang

Surabaya (beritajatim.com) – Siapa sangka tulang lunak yang biasa dibuang saat masak dan mengolah sotong tenyata bisa berguna di dunia medis, yakni mampu mengisi defect tulang. Pada umumnya, kasus patah tulang dapat menyebabkan terjadinya defect tulang. Defect tulang bisa diisi dengan biomaterial yang kandungannya mirip kandungan tulang.

Dr. Ir. Aminatun, M.Si., selaku dosen Universitas Airlangga (Unair) bersama tim memanfatkan tulang sotong sebagai bahan pengisi tulang. Tulang sotong diketahui mengandung 85 persen kalsium karbonat (CaCO3) yang merupakan komponen utama HA.

Tulang mengandung mineral hidroksiapatit (HA) sekitar 67-70%. Oleh karena itu, HA dengan rumus kimia Ca10(PO4)6(OH)2 banyak digunakan sebagai bahan pengisi defect tulang karena sifatnya yang bioaktif dan osteokonduktif yang dapat mendukung proses remineralisasi tulang karena dapat merangsang tumbuhnya sel tulang.

“Selama ini tulang sotong hanya dipakai sebagai pakan burung karena kandungan kalsiumnya. Mengingat kandungan kalsium pada tulang ikan sotong sangat besar, maka untuk meningkatkan kemanfaatan dari ikan sotong ini, tercetus ide untuk menggunakannya sebagai material pengisi defect tulang,” tutur dosen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga tersebut pada Sabtu (26/12/20).

Setelah melewati proses penelitian, tulang lunak sotong akhirnya di uji secara invitro. Pada tahapan uji ini dilakukan pemberian serbuk HA tulang sotong pada tikus putih dalam waktu empat dan delapan minggu. Pengujian dilakukan untuk mengetahui respon jaringan inflamasi, proliferasi sel, pembentukan kalus, penulangan kalus (osifikasi) dan remodeling tulang. Hasil uji membuktikan HA tulang sotong berpengaruh terhadap proses pertumbuhan tulang dengan terbentuknya osteoblas, osteoklas, woven bone, lamellar bone, sistem havers sampai terjadi bone repair.

“Pemberian HA berpengaruh terhadap waktu penyembuhan. Waktu penyembuhan terbaik pada pembentukan tulang terjadi pada hari ke 56 (8 minggu). Semakin lama waktu penyembuhan, semakin terbentuk tulang baru atau terjadi regenerasi secara sempurna,” tambahnya.

Selanjutnya, dilakukan uji pada kelinci untuk mengetahui pengaruh scaffold komposit nHA:Ch: kondroitin sulfat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa berdasarkan pemeriksaan whole blood, maka scaffold komposit nHA:Ch: kondroitin sulfat tidak mempengaruhi timbulnya inflamasi pada proses pertumbuhan tulang.

“Proses pertumbuhan sel osteoblast, woven bone, lamellar bone, sistem havers sampai terjadi bone repair, berjalan dengan baik seiiring dengan pertambahan masa uji coba hingga 56 hari,” ujarnya.

Penelitian tersebut dilakukan dengan bekerja sama dengan departemen Biologi UNAIR, Fakultas Kedokteran Gigi Unair, Departemen Orthopedik dan Traumatologi Fakultas Kedokteran UNAIR, dan prodi Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM). “Harapannya riset ini bisa dilanjutkan untuk uji preklinis-klinis dan siap untuk dimanfaatkan langsung pada manusia yang membutuhkan,” pungkasnya. [kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar