Pendidikan & Kesehatan

Bersama Peneliti Internasional

Dosen Psikolog Unair Ciptakan Tes Covid-19 Sistem Daring

Sejumlah relawan yang tergabung dalam pembuatan alat deteksi daring risiko tertular dan menularkan viruscorona. [Foto: https://your-covid-19-risk.com]

Surabaya (beritajatim.com) – Telah banyak beredar tes online untuk menguji tingkat kemungkinan seseorang terpapar Covid-19. Bahkan sejumlah situs resmi pemerintah juga melakukan pendekatan yang sama.

Kali ini sejumlah peneliti dari Indonesia bekerja sama dengan tim internasional telah mengembangkan alat tes daring untuk memperkirakan risiko seseorang tertular dan menularkan virus corona. Tes online tersebut dibuat berdasarkan Ilmu Perubahan Perilaku yang merupakan cabang dari Ilmu Psikologi. Alat online tersebut dapat diakses di https://your-covid-19-risk.com.

Triana Kesuma Dewi, Dosen dan Peneliti Psikologi Kesehatan, Fakultas Psikologi (F.Psi), Universitas Airlangga (Unair) yang tergabung dengan kelompok peneliti dari Indonesia menerangkan bahwa alat tes tersebut berbeda dengan alat tes yang sudah ada.

Tes online yang banyak tersebar tidak mengeksplorasi alasan mengapa masyarakat melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku, misalnya tidak menjaga jarak fisik (physical distancing) dari orang lain. Padahal, informasi semacam itu menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku di masyarakat.

“Kami membuat alat ini berdasarkan Reasoned Action Approach (Fishbein & AJzen, 2010). Jadi tidak hanya melihat perilaku apa yang muncul dan tidak mucul sehingga meningkatkan risiko penularan, tetapi juga melihat faktor apa yang mempengaruhi perilaku tersebut. Sehingga memungkinkan untuk mengindentifikasi intervensi apa yang relevan untuk meningkatkan perilaku protektif yang diharapkan,” jelasnya dalam wawancara via telepon, Jumat (5/6/2020).

Pengguna tes akan memperoleh perkiraan risiko sejauh mana dirinya dapat tertular atau menularkan virus corona. Perkiraan tersebut diukur dari tiga faktor risiko berdasarkan kajian ilmiah, yaitu menjaga kebersihan tangan; menjaga jarak aman (physical distancing) di tempat umum; dan perilaku tetap di rumah atau menghindari keramaian.

“Kami ingin melihat perilaku-perilaku tertentu yang menjadi fokus kita, untuk menghitung risiko apakah mereka memiliki resiko tambahan yang tinggi untuk menularkan coronavirus ini. Resiko tambahan di sini ialah hal-hal yang dapat kita kendalikan dan ubah, bukan penyakit kronis atau bawaan yang diderita,” papar Kandidat PhD, Maastricht University, Belanda itu.

Triana mengatakan, alat tes daring tersebut awalnya digagas oleh Gjalt-Jorn Peters dari Open University dan Sylvia Roozen dari Maastricht University, Belanda. Selanjutnya, data hasil tes tersebut akan dipublikasikan pada repositori open access, sehingga dapat diakses oleh siapa pun.

Informasi yang muncul usai melakukan prosedur tes risiko tertular dan menularkan viruscorona. [Foto: https://your-covid-19-risk.com]
Alat yang digarap sejak Maret 2020 tersebut telah ditranslasikan ke dalam 27 bahasa dan diluncurkan di berbagai negara di dunia. Alat deteksi online ini pertama kali diluncurkan di Belanda pada 7 Mei 2020. Sedangkan di Indonesia, masyarakat dapat menjajal tes daring itu mulai Sabtu (6/6/2020).

“Kita tahu bahwa mengubah perilaku itu bukanlah hal yang mudah. Semoga alat tes ini dapat memberikan rekomendasi dalam memahami perilaku protektif terkait Covid-19, faktor penyebab munculnya perilaku tersebut, dan kira-kira pendekatan apa yang relevan untuk mengubah perilaku tersebut. Dengan demikian, kami harap ini dapat memberikan rekomendasi bagi pemerintah maupun organisasi kesehatan untuk membuat kebijakan dan informasi publik yang relevan,” harapnya.

Sebagai informasi, sekitar 150 ilmuwan dari 35 negara di dunia secara sukarela bergabung untuk menciptakan alat tersebut. Selain Triana, beberapa peneliti dari Indonesia yang ikut terlibat di antaranya adalah Astin Sokang, PhD (UKRIDA); Sali Rahadi Asih, PhD (UI); Andrian Liem, PhD (University of Macau); dan Ratri Nurwanti, M.Psi, psikolog (Universitas Brawijaya). [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar