Pendidikan & Kesehatan

Ademos Bersama PDTC

Dorong Penanganan Pandemi Covid-19 Bagi Kelompok Marginal

Bojonegoro (beritajatim.com) – Kerja sama antarpihak dan lembaga pemerintah sangat dibutuhkan dalam penanganan Covid-19. Sehingga penyebaran wabah yang terjadi saat ini bisa diminimalisir. Selain itu penguatan ekonomi, khususnya bagi masyarakat rentan tetap berjalan dan penanganan kesehatan bisa lebih tepat.

Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) bersama Konsorsium Penguatan Desa Tanggap Covid-19 (PDTC) yang terdiri dari Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders (YPKD), Atmawidya Alterasi Indonesia (AAI), dan Association of Resiliency Movement (ARM) menginisiasi kerja sama tersebut untuk mendukung pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Salah satu inisiasi itu, untuk meningkatkan kualitas pelayanan data dan informasi terkait penanganan pandemi Covid-19 bagi kelompok rentan dan marginal di Kabupaten Bojonegoro, khususnya di Desa Dolokgede dan Desa Kacangan.

Dalam pertemuan teknis yang diselenggarakan baru-baru ini, Ketua Ademos Mohammad Kundori mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil dalam pelayanan data-informasi.

“Sehingga pelayanan kesehatan dan perlindungan sosial ekonomi berkelanjutan bagi kelompok rentan dan marginal dapat berjalan dengan baik selama masa pandemi,” ujar Mohammad Kundori, Selasa (4/8/2020).

Selain itu, lanjut Kundori, kerjasama antarpihak itu juga akan memotret peta bencana lainnya, baik bencana alam, non-alam, teknologi dan sosial. Dari peta bencana tersebut, kemudian akan bersama-sama menyusun tim relawan kebencanaan beserta acuan kerjanya. “Tim ini nantinya akan dilatih keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan bencana,” lanjut Kundori.

Kepala Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo Nunuk Sri Rahayu mengungkapkan, dengan adanya kerja sama antarpihak ini diharapkan bisa membantu dalam membangun kesadaran masyarakat untuk salin menjaga sesama dengan menerapkan protokol kesehatan. “Warga saya masih banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan, padahal Covid-19 sampai saat ini belum ada obatnya,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Desa Kacangan, Kecamatan Tabakrejo, M Aziz Ghozali mengatakan bahwa selain Covid-19, banyak bencana lain yang sering terjadi di Desa Kacangan. Seperti misalnya, dalam pencegahan penyakit demam berdarah. Saat ini fokus pada Covid-19, namun di sisi lain demam berdarah juga penyakit yang membunuh.

“Dengan adanya ini saya mengusulkan untuk dibentuknya relawan kesehatan, strategi mobilisasi, dan pengetahuan sejak dini tentang wabah demam berdarah,” kata M Aziz Ghozali.

Menurutnya, kebakaran, tanah longsor, kekeringan merupakan jenis bencana yang juga harus ditingkatkan penanganan dan penanggulangannya. “Saya menggaris-bawahi fokus program ini yang pertama adalah terkait dengan kesehatan, yang kedua adalah bencana. Keduanya sama-sama penting,” terangnya.

Sekadar diketahui, pertemuan tersebut melibatkan Kepala Desa, Perangkat Desa, Bidan Desa, BPD, PKK, Karang Taruna, Kelompok Masyarakat, Komunitas Pelaku Usaha, Tokoh Masyarakat, Perlindungan Masyarakat (LINMAS), Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) dan berbagai perwakilan kelompok rentan dan marginal setempat. Kegiatan tersebut dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti jaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, dan cek suhu.

Pertemuan teknis tersebut adalah rangkaian awal dari berbagai program kegiatan Ademos sebagai upaya penguatan ketangguhan desa dalam mencegah, menangani dan mengelola resiko pandemi Covid-19 yang akan dilakukan selama enam bulan ke depan. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar