Pendidikan & Kesehatan

Dokter Gugur dalam Tugas Kemanusiaan, Insan Media di Ponorogo Pakai Pita Hitam

Kadinkes Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini mengenakan pita hitam di lengan kanannya. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Meninggalnya dr Novita Rachmawati karena Covid-19 menjadi duka yang mendalam bagi insan medis di Ponorogo. Sebagai bentuk belasungkawa dan solidaritas bagi sejawat yang gugur dalam tugas kemanusiaan, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini menghimbau seluruh insan kesehatan se-Kabupaten Ponorogo untuk menyematkan pita hitam di lengan kanan. Penyematan pita tanda belasungkawa dan solidaritas itu dilakukan selama 3 hari ke depan.

“Penyematan pita hitam ini sebagai bentuk penghormatan kita kepada beliau almarhumah dr. Novita Rachmawati,” kata Irin, sapaan drg Rahayu Kusdarini, Jumat (11/12/2020).

Almarhumah dr Novita Rachmawati merupakan pejuang medis, Irin menyebut bahwa insan kesehatan berdoa untuk almarhumah meninggal husnul khatimah. Dan bisa bertemu putranya di surga. Irin mengungkapkan pihaknya saat ini belum melaksanakan salat gaib, sebab sekarang ini pihaknya masih berkordinasi terkait pemakaman yang rencananya akan dimakamkan di Sragen, Jawa Tengah.

“Almarhumah rencananya dimakamkan di Sragen, Jawa Tengah,” katanya.

Untuk diketahui, dr. Novita Rachmawati yang tengah hamil 7 bulan itu, meninggal setelah hampir dua minggu melawan Covid-19 yang ia derita. Beliau meninggal setelah sebelumnya dirujuk dan menjalani perawatan intensif di RSKI Universitas Airlangga Surabaya. Dua hari yang lalu, janin yang ada dirahim meninggal. Sehingga tindakan medis yang dilakukan adalah melahirkannya, meski sudah dalam keadaan meninggal.

“Beliau menyusul putranya menghadap Allah, yang dua hari lalu meninggal di dalam kandungan,” pungkas Irin. (end/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar