Pendidikan & Kesehatan

Dokter Cita Rosita Jadi Gubes Ke 111 Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Airlangga kembali mengukuhkan guru besar baru. Kali ini berasal dari lingkungan Fakultas Kedokteran (FK) Unair, yakni Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K), FINSDV yang resmi dikukuhkan Sabtu, (26/1/2019).

Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K), FINSDV menyampaikan orasi ilmiahnya di Aula Graha Mukti Kampus C Unair berjudul “Kusta Melawan Kesejahteraan, Menantang Ilmuan (Menuju Penghentian Transmisi M.Leprae dengan Kolaborasi Lintas Sektor dalam Academic Health System Melalui Penjegahan Dini Disregulasi Ilmunitas”. Dalam orasinya, ia menyebut bahwa penyakit kusta adalah penyakit sepanjang sejarah peradaban manusia.

“Kusta merupakan penyakit sepanjang sejarah peradaban manusia, namun sampai saat ini transmisi penyakit tersebut belum bisa dihentikan terbukti dari masih stabilnya kasus baru, kasus kusta anak, dan kasus kecacatan,” urainya guru besar FK unair ke-111 ini.

Ia juga menjelaskan bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang tidak hanya menyerang fisik pengidapnya, namun juga menyerang masyarakat sekitarnya karena menganggap bahwa kusta adalah musuh kesejahteraan manusia.

“Penyakit ini bukan hanya masalah fisik namun juga masalah sosial dan ekonomi dengan adanya lingkaran setan kecacatan stigma diskriminasi kemiskinan penderitaan dan perburukan kecacatan, bisa dikatakan kusta melawan kesejahteraan manusia,” tegas perempuan kelahiran 4 Agustus 1967 ini.

Hal ini dilandasi karena telah banyak riset yang dilakukan peneliti dalam bidang imunologi dan mikrobiologi namun masih belum dapat memutus rantai transmisi penyebarannya. Menurutnya para peneliti masih kurang mengeksplorasi aspek kuratif dan diagnostik dan kurang memperhatikan promotif, preventif dan rehabilitatif.
“Padahal aspek promotif dan preventif inilah yang berpotensi tinggi dalam menghentikan transmisi kusta melalui pencegahan dini disregulasi kekebalan terutama di daerah endemis kusta,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor dapat dilakukan guna menjangkau daerah endemis. Selain itu ia juga menginginkan adanya sistem pelayanan kesehatan menggunakan sistem rujukan berjenjang yang tidak menyulitkan program pemberantasan kusta.

Ia mengambil contoh Puskesmas yang nantinya dapat dikembangkan dikembangkan jadi pusat kegiatan promotif-preventif kusta serta memiliki standar minimum layanan kusta nasional. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar