Pendidikan & Kesehatan

Dokter Beberkan Kerawanan Tangani Pasien OTG di Tengah Pandemi

Surabaya (beritajatim.com) – Masa New Normal bukan berarti bisa seenaknya, tapi masyarakat harus benar benar membiasakan diri menerapkan protokol kesehatan, karena di garda terdepan dokter dan tenaga kesehatan terus berjuang menanggulangi pandemi Covid-19.

Dokter RS Ibnu Sina Gresik dr. Inggrid Asali mengatakan rawannya menjadi yang terdepan. Sehingga banyak dokter yang akhirnya ikut terpapar Covid-19. Terlebih banyak pasien yang datang tanpa menunjukan tanda-tanda gejala Covid-19.

“Bisa dibilang Covid-19 ini seperti penyakit dengan 1001 gejala. Covid ini tidak melulu panas, batuk atau diare. Ada juga yang datang karena penyakit apapun ternyata juga positif Covid. Seperti datang karena kurang darah, kecelakaan, atau mau operasi tumor ternyata bisa jadi sudah positif Covid,” ujar dr Inggrid, kepada beritajatim.com, Kamis (25/6/2020), usai acara donasi dari Alumni angkatan 2013 FK Unair untuk RSUD Dr Soetomo.

Ia bercerita pernah menemui pasien yang datang pingsan ke UGD. Setelah di cek, diagnosisnya pasien kekurangan darah. “Awalnya kita paham, oh mungkin karena puasa jadi kurang gula kurang darah. Ternyata setelah diperiksa lebih lanjut, pencetus pasien kurang gula itu karena sebelumnya sudah terinfeksi Covid-19,” cerita dr Inggrid.

dr Inggrid melanjutkan, awalnya nakes (tenaga kesehatan) menatalaksanaan pasien seperti biasanya, yakni pasien bukan Covid-19. Hingga akhirnya, semua nakes yang bersentuhan dengan pasien itu harus melakukan general cek-up.

Banyaknya pasien yang datang tanpa menunjukan gejala awal Covid-19 membuat nakes harus ekstra hati-hati. Oleh karenanya sebagai dokter dr Inggrid selalu mengingatkan sejawat dokternya untuk tidak lengah terhadap setiap pasien yang datang.

“Jadi pesan saya buat semua nakes yang bertugas, jangan pernah meremehkan pasien hanya karena terlihat bukan Covid-19. Kita harus memperlakukan semua pasien seperti pasien Covid-19 sampai terbukti negatif baru kita bisa relax. Jika kita tidak tahu pasti, baiknya kita selalu berhati-hati, lakukan sesuai prosedur tatalaksana yang seharusnya,” tutur Inggrid.

Ia juga mengingatkan agar dalam penangangan pasein ada scoring yang dipakai. Jadi nilai pada scoring harus benar-benar menjadi patokan saat menerapkan tata laksana penanganan pasien.

Di sisi lain, dr. Alvin Saputra, seorang dokter RS Bhayangkara Watukosek Pasuruan mengatakan bahwa saat ini IGD di setiap rumah sakit telah menerapkan sistem proteksi ganda agar meminimalisir resiko transmisi.

Jadi sudah hampir 3 bulan pandemi ini muncul, juga membuat fasilitas kesehatan berevolusi. Jadinya saat di IGD selalu dibedakan. IGD pun memiliki 2 perisai atau 2 sistem. Sistem pertama itu triage umum, APD-nya haru lengkap. Karena dia yang mendifer kira-kira mana pasien Covid-19, dan mana yang tidak.

Jika berkaitan dengan Covid-19, maka berhenti di tahap pertama. Perisai kedua, IGD umum. “Yang sudah melalui rapid dan dari hasil pemeriksaan pertama dinyatakan negatif akan ditangani di perisai kedua,” terang dr Alvin.

Lapis penanganan ini menurut kedua dokter tersebut memang harus diterapkan, karena di masa pandemi tidak ada yang bisa menjamin seseorang tidak terpapar Covid-19. Apalagi kasus Covid-19 ini bisa datang tanpa gejala atau OTG.

dr Inggrid pun juga mencontohkan kejadian ojek online yang meninggal di salah satu rumah sakit rujukan beberapa waktu lalu. Baik pihak rumah sakit maupun masyarakat yang terlibat tidak bisa sepenuhnya disalahkan secara sepihak. Karena pasien datang karena kasus kecelakaan.

“Memang dalam kondisi normal pasien harus segera dioperasi, tetapi ini di tengah pandemi, jadi prosedur tata laksana penanganan Covid-19 juga harus diterapkan. Selagi menunggu hasil swab, pasien meninggal, ternyata setelah beberapa hari dikuburkan hasil keluar positif. Nah, yang terlibat dalam pengambilan itu juga bisa jadi ODP, OTG, PDP,” pungkas dr Inggrid. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar