Pendidikan & Kesehatan

Dinkes Ponorogo: Serahkan Pemulasaraan dan Pemakaman Jenazah Covid-19 pada Ahlinya

Kadinkes Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Dua kasus pengambilan paksa jenazah Covid-19 oleh keluarga beberapa hari terakhir disayangkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo. Kepala Dinkes Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini mengungkapkan pengambilan jenazah oleh keluarga untuk dipulasara sendiri ini, ke depan tidak terulang kembali. Sebab, hal tersebut sangat berbahaya. Tidak hanya untuk anggota keluarga namun juga untuk orang lain.

“Seseorang yang terinfeksi Covid-19, jika meninggal, jenazahnya tersebut masih infeksius,” kata Irin sapaan karib Rahayu Kusdarini, Selasa (11/5/2021).

Maka dari itu, penanganannya sejak awal pandemi hingga kini masih tetap sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Yakni dengan pemulasaraan dan pemakaman protokol kesehatan. Jika mengambil dan menguburkan jenazah pasien yang terkonfirmasi Covid-19 tanpa melalui prokes yang ketat, bisa saja terpapar melalui sentuhan maupun dropled dari pasien semasa hidup. Meskipun dalam pemulasaraannya anggota keluarga tersebut tetep menggunakan APD dan prokes. “Dari kasus pengambilan jenazah kemarin, anggota keluarga pasien tidak menggunakan APD yang lengkap,” katanya.

Diakui Irin, tidak semua anggota keluarga yang nekat memulasarakan jenazah Covid-19 pasti akan terpapar virus tersebut. Sebab, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari faktor kekebalan tubuh, tingkat keganasan virus dari pasien, jumlah virus yang masuk ke tubuh seseorang dan faktor lainnya. “Karena faktor tersebut, diperlukan kehati-hatian dalam memakamkan jenazah Covid-19, dengan protkes yang ketat,” katanya.

Dia menambahkan dari faktor-faktor itu, tidak diketahui secara pasti, bagaimana dapat menularkan ke orang lain. Nah, pemulasaraan dan pemakaman secara protkes dilakukan untuk mengurangi atau memutus mata rantai penularan dari jenazah Covid-19. “Oleh karena itu, pemulasaraan dan pemakaman diserahkan kepada yang ahli, dalam hal ini satgas Covid-19,” ungkapnya.

Pasca kedua kasus pengambilan paksa jenazah Covid-19, satgas penanganan covid-19 kabupaten melakukan tracing. Dari jenazah Covid-19 di RSUD dr. Harjono, ada 8 orang yang dilakukan rapit test antigen. Hasilnya, ada seorang yang positif. “Untuk jenazah Covid-19 di RSUA, ada 5 orang yang dilakukan swab PCR, hingga saat ini hasilnya belum diketahui,” pungkasnya. (end/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar