Pendidikan & Kesehatan

Dinkes Kabupaten Kediri Waspadai Wabah DBD, Tahun 2020 Sebanyak 338 Kasus

Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Kesehatan menghimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap serangan nyamuk yang bisa menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal tersebut dikarenakan curah hujan dengan intensitas cukup tinggi akhir akhir ini di Wilayah Kabupaten Kediri.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terhindar dari penyakit berbahaya ini antara lain perilaku masyarakat terkait kebersihan lingkungannya harus lebih ditingkatkan. Selain itu gerakan 3M (Menguras, Menutup dan mengubur) wajib dilakukan.

Sudah lama 3M digadang-gadang sebagai cara ampuh untuk menekan angka penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Oleh karena itu, program 3M perlu dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun, khususnya saat musim penghujan tiba saat ini.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Bambang Triono Putro mengatakan jika kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan agar trend DBD bisa turun secara drastis.

Baca Juga:

    “Beberapa bulan yang lalu angka DBD memang cukup tinggi, namun akhir akhir ini menurun. Meskipun begitu kita tetap mengingatkan untuk pola hidup bersih terlebih saat ini intensitas hujan cukup tinggi. Selama musim hujan belum reda potensi penularan masih sangat berpotensi,” ungkap Dokter Bambang.

    Dari data Dinas Kesehatan tahun 2020 kemarin, total kasus DBD mencapai 338 orang, dengan 7 orang diantaranya meninggal dunia. Dari hasil grafik peningkatan terjadi sejak bulan Agustus, hingga pada bulan Desember mencapai 23 kasus, dengan 1 angka kematian.

    “Penyebaran kasus DBD tidak hanya berpusat di satu titik wilayah. Selama masih tingginya curah hujan, potensi peirndukan nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD tetap ada. Sehingga sangat diperlukan gerakan 3M, agar tidak terjadi perindukan tempat nyamuk terutama pada air yang tergenang,” imbuh Dokter Bambang.

    Saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri melalui para petugas Puskesmas serta kader jumantik, telah melakukan pendataan kasus DBD di setiap RT dan RW. Dengan adanya laporan kasus DBD dari pihak Puskesmas, Dinkes Seksi Pencegahan Penularan Penyakit akan segera menindaklanjuti dengan penanganan foging.

    “Tanpa mengajukan foging, dari Puskesmas akan mengadakan istilah Gerakan surveilans Puskesmas. Dengan gerakan epidemology, lapor ke Dinkes, lalu kita foging,” tutupnya. [nm/but]



    Apa Reaksi Anda?

    Komentar