Pendidikan & Kesehatan

Dindik Jatim Dukung Sistem SKS untuk Sekolah

Surabaya (beritajatim.com) – Satuan Kredit Semester (SKS) sepertinya akan segera digalakkan di sekolah-sekolah di Jawa Timur. Merujuk pada kesuksesan menggunaan SKS di Malang, yang menjadikan kota tersebut mendapat predikat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi dibanding kota-kota lainnya di Jawa Timur.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Saiful Rahman akan menerapkan sistem SKS tersebut secara bertahap di sekolah-sekolah di Jatim. Sistem SKS ini juga diharapkan mampu menggantikan akselerasi.

“Sistem ini merupakan upaya dalam mendorong siswa dalam berpikir kritis, mandiri dan kreatif. Di samping itu, peran guru juga dituntut untuk terus berinovasi. Terutama pada pelayanan proses belajar,” ujar Saiful.

Diakui Saiful, sistem SKS sendiri berbeda dengan program akselerasi. Di mana menurut dia, program akselerasi merupakan program yang bagus namun salah dalam penerapannya. Lebih lagi, jika dilihat dari sisi psikologis siswa.

“Kalau kita cermati program akselerasi ini kan justru membuat siswa jadi individualis dan egois. Merasa dirinya paling pintar dan meremehkan yang lain. belum lagi, mereka ini tidak bisa bersosialisasi. Jadi jauh berbeda dengan sistem sks yang justru megandalkan kerjasama dan komunikatif,” tambahnya.

Pada tahun ini sistem SKS akan diterapkan di tiga sekolah rujukan di Surabaya, di antaranya, SMAN 15 Surabaya, SMAN 2 Surabaya dan SMAN 5 Surabaya. Dalam model pembelajaran SKS ini, masing-masing sekolah harus menggunakan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) yang disusun oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sekolah sebagai buku panduan dan bahan ajar untuk siswa. Sistem pembelajaran SKS yang baru ini rencananya akan diterapkan pada tahun ajaran 2018/2019.

Waka Kurikulum SMAN 5 Surabaya, Damari  menilai diterapkannnya sistem SKS sebagai model pembelajaran sangat sesuai dengan penerapan K13 yang ditunjang dengan sistem literasi. Di mana, siswa diminta untuk mencari informasi dari berbagai sumber literasi sesuai perintah yang ada dalam UKBM. Sedangkan jumlah SKS yang harus diselesaikan siswa bergantung pada jumlah UKBM di masing-masing mata pelajaran yang dikerjakan siswa.

“Jadi itungannya nggak bisa satu SKS itu 1 UKBM atau 1KD  pada mata pelajaran tertentu. Bisa juga, seperti Fisika yang punya 6 UKBM pembahasan dan  itu bisa beberapa kali pertemuan harus selesai. Karena siswa harus benar-benar memahami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, setelah mampu memahami materi yang disampaikan buku panduan UKBM, siswa akan mengikuti tes pemahaman. Jika lulus harus mengikuti tes normative untuk mengikuti UKBM selanjutnya.

“Sistem inikan ada tingkatannya. Ada UKBM 1,2 dan seterusnya sesuai dengan ketuntasan  materi pelajaran. kalau mereka bisa menyelesaikan lebih dari 11 UKBM dalam satu tahun, bisa juga mereka lulus lebih cepat,” jelas Damari.

Damari menjelaskan dalam satu kelas pembelajaran, baik siswa dengan kategori lambat, cepat, pintar maupun sedang dijadikan satu dalam sebuah kelompok yang berisi empat hingga lima siswa.
“Inikan pola pembelajaran mandiri. Baik dalam pemahaman materi maupun penyelesaian siswa harus menguasai itu. Sehingga kalau salah satu dari mereka ada yang nggak bisa, yang lain bisa mengajari dan menjelaskan. Sehingga bisa merata dan memiliki unsure 4C” lanjut dia.

Yaitu, Colaborasi, Communication, Creativitas dan Critis. Sementara peran guru, lanjut dia, tetap pada porsinya sebagai fasilitator, pengatur strategi belajar dan inovasi dalam pembelajaran.

Hal  yang sama juga diungkapkan Penanggung Jawab Program SKS SMAN 15 Surabaya, Ulin Yudhawati jika penerapan sistem SKS jauh berbeda dengan sistem akselerasi. Di mana, jika sistem akselerasi secara pelaksanaan bersifat terkondisikan, berbea dengan sistem SKS yang bersifat alamiah.

“Meskipun nantinya mereka ada yang lulus lebih cepat, tapi dalam perjalanan itu kan mereka bisa bersosialisasi dengan baik oleh teman-temannya. Lain dengan akselerasi yang lebih individualis dan anti-sosial,” tutur dia. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar