Pendidikan & Kesehatan

Difiliasi, Komunitas Filsafat di Kota Urban Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, dengan aktivitas perdagangan nomor satu di Jawa Timur dan juga menjadi pintu utama perdagangan bagi wilayah Indonesia timur.

Seperti layaknya kota metropolitan pada umumnya, Surabaya terlihat sebagai kota yang sangat sibuk, waktu berjalan cepat. Pemahaman Surabaya seperti ini mengakibatkan miskonsepsi perihal kekayaan intelektual yang ada di kota ini.

Kekayaan intelektual di Surabaya tertutupi dengan penatnya masalah kota urban. Namun, fenomena tersebut berbanding ketika berjumpa dengan Komunitas Diskusi Filsafat Lintas Generasi (DIFILIASI).

“Difiliasi merupakan komunitas yang menawarkan belajar bersama dengan penekanan hasil cara berfikir kritis dengan pendekatan Filsafat dan budaya Arek Surabaya,” kata Bias Adinata selaku Pembina Difiliasi, Senin, 2 Agustus 2021.

Bias Adinata atau Cak Bias, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa Difiliasi dibangun sejak 2017, dengan jumlah orang sampai hari ini menyentuh 45 orang yang aktif, dari berbagai latar belakang pendidikan, organisasi mahasiswa dan pekerjaan.

“Difiliasi menawarkan kurikulum filsafat yang mempunyai target hasil teman-teman yang datang untuk belajar bersama mendapatkan sebuah pemikiran untuk mempertanyakan apapun yang selama ini mereka alami, sehingga bisa meletakkan pondasi berfikir bagaimana yang benar,” jelasnya.

Dengan rutinan kajian diskusi mulai tema sejarah filsafat sampai tema kontemporer yang dilakukan setiap seminggu sekali di Omah-Tua Coffeshop & Library, Jl. Maspati V no 31. Surabaya.

“Selama 3 tahun, Difiliasi isitqomah hanya libur pada saat lebaran dan saat ini beradaptasi dengan sistem online yang ternyata juga antusias teman-teman sangat besar,” ungkap Cak Bias.

Menurutnya, pendekatan filsafat dengan budaya arek sendiri merupakan salah satu sub culture pemuda yang ada di Jawa Timur, yang bisa dimaksud sebagai bentuk solidaritas. “Dari kata rek kita anggap sebagai hubungan egaliter yang kuat antar pemuda atau arek-arek Surabaya ini,” katanya.

Demikian bisa diartikan ketika diskusi harus diusahakan untuk menggunakan kata-kata dan kalimat dengan bahasa yang sederhana dan dipahami banyak orang.

“Agar semakin dekat secara emosional dan juga melawan stigma masyarakat umum bahwa Filsafat itu bahasanya sulit dimengerti, dengan budaya Arek kita rasa Filsafat lebih bisa dibumikan kepada khalayak luas, khususnya di Surabaya,” imbuhnya.

Corak egaliter dan semangat menyederhanakan kata-kata dalam pembelajaran filsafat yang dilakukan oleh Difiliasi selama tiga tahun ini ternyata membuahkan hasil, mulai dari anak baru lulus sma sampai pengusaha muda, tergabung dalam kelompok diskusi filsafat ini.

Salah satunya, Muhammad Dirga Ismansyah Putera, yang bekerja sebagai Digital Agency bercerita saat aktif di Difiliasi dia berjumpa dengan orang-orang dari berbagai sudut pandang, dalam pembahasan-pembahasan yang cukup menarik.

“Kajian-kajian yang dilakukan oleh Difiliasi selalu memberikan hasil berfikir lebih bijak dalam menentukan arah perjalanan kehidupan,” ucapnya.

Senada dengan Dirga, Firdaus Nurfauzan, yang merupakan pemilik dari FInest Garment menjelaskan alasan bergabung bersama Difiliasi, menurut Firdaus, Difiliasi adalah oase dibalik kesibukannya sebagai pengusaha.

“Berkunjung setiap sabtu malam minggu dan bergaul dengan teman-teman Difiliasi selalu bisa mendapatkan pemahaman-pemahaman baru dari setiap masalah yang ada di sekitar kita dengan bijak dan pemahaman yang luas ya, karena filsafat melekat dengan kebijakan,” kata Firdaus.

Berbeda dengan Jonathan, dia memiliki ketertarikan yang mendalam untuk belajar filsafat. Menurutnya, filsafat bukan sekadar menghafal pemikiran-pemikrian filsuf saja, namun tentang bagaimana membentuk pola pikir kritis.

“Saya bergabung dengan Difiliasi karena perlu wadah untuk berdiskusi, mengasah daya intelektual dan mempertajam pandangan saya tentang berbagai macam topik, sehingga dapat menjadi lebih mindful dalam melihat kehidupan,” kata Jojo sapaan akrabnya yang merupakan pekerja seni ilustrator dan juga mempunyai hobi keliling dunia ini.

Selain itu, Cak Bias juga menyampaikan bahwa peran Difiliasi yang menjadikan beberapa anak-anak yang masih sekolah menengah atas, tertarik untuk belajar filsafat, ilmu yang seharusnya ada di bangku perkuliahan, namun diolah dengan renyah. Filsafat bisa diterima dan dipelajari oleh setiap orang tanpa harus mengenyam pendidikan formal.

“Difiliasi juga membangun manajemen keilmuan yang tidak bisa dianggap sekadar kelompok diskusi biasa, karena di dalamnya juga ada target-target penulisan untuk setiap anggota dan juga mempunyai perpustakaan umum yang bisa dipinjam oleh semua orang-orang yang tertarik dalam filsafat,” katanya.

Difiliasi menjadi tawaran alternatif perkumpulan intelektual organik yang bisa dikunjungi di Surabaya, menjadi oase pengetahuan diantara riuhnya Kota Surabaya.

“Difiliasi bisa dikunjungi di akun sosial media Instagram, Twitter dan Facebook dengan nama yang sama @Difiliasi,” tandas Cak Bias. [rio/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar