Pendidikan & Kesehatan

Diberitakan Jadi Klaster Covid, Ini Penjelasan Keluarga Rawon Nguling Probolinggo

Rawon Nguling. Foto: kec.nguling.id

Probolinggo (beritajatim.com) – Keluarga besar pemilik Rawon Nguling, warung terkenal di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, meyakini, kematian pemilik warung Hj. NM, dan putranya S, pada 2 dan 3 Agustus lalu, bukan karena covid-19.

Rudi Efendi, salah satu kerabat Hj. NM, Jumat (07/08/2020) siang menuturkan, almarhumah sudah sejak lama memiliki riwayat jantung dan diabetes. Sedangkan putranya, almarhum S, memiliki riwayat jantung.

“Sebelum ramai kasus covid-19, Mbak NM, pernah masuk RS. Darma Husada. Ya karena diabetes. Badannya drop. Makanya kami heran, kok tiba-tiba almarhuman dituding-tuding meninggal karena covid-19,” katanya.

Rudi menjelaskan, kronologis mencuatnya tudingan covid-19 sebagai penyebab meninggalnya NM, bermula dari hasil uji swab. Surat keterangan itu diberikan Gugus Tugas Covid-19 Pemkab Probolinggo, dua hari setelah Almarhumah NM, rawat inap di sebuah RS di Gending, sebelum akhirnya meninggal setelah dirujuk dan dirawat beberapa hari di RS Tongas.

“Dirawatnya almarhumah ya karena diabet. Bukan karena sakit lainnya,” tambah Rudi. “Ya kami ndak tahu ya dunia kedoktera, lah kok tiba-tiba divonis menderita covid-19,” tambah pria berprofesi sebagai kontraktor itu.

Lain hal soal meninggalnya S, anak Hj NM. Dikatakan Rudi, S, sebelumnya mengalami insiden kecil hingga mengakibatkan ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Insiden dimungkinkan karena S, yang berperawakan subur, sedang mengalami masalah jantung.

Nah ketika sudah siuman, S, diberi kabar jika ibunya meninggal dalam perawatan rumah sakit. Mendengar kabar duka itu S, syok sampai menyusul Hj, NM, sehari kemudian. “Posisi S, tidak sedang menjalani rawat inap di rumah sakit. Ia ada di rumah saat kondisinya drop. Siapa yang ndak syok, wong ibu yang meninggal apa lagi ada riwayat jantung,” pungkas ayah dua anak itu.

Terpisah H. Rozy, putra sulung Hj. NM, mengatakan, dirinya anak dan istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan hasil swab juga negatif. “Bukan hanya saya. Paman saya, H Rofiq, sampai kini juga sehat-sehat saja meski beliau orang paling dekat berada di sekitar umi (HJ. NM) selama sakit dan berobat,” katanya.

Sebelumnya, urai Rozy, ibundanya bertahun-tahun mengkonsumsi obat diabetes dan jantung dari seorang dokter ahli penyakit dalam di Malang. “Umi sudah lama berobat kepada Prof. DR. dr. Djoni Djunaidi, di Malang. Terakhir kira-kira sebulan sebelum menjalani rawat inap di RS Tongas, umi kontrol kesana. Ya ndak ada keluhan lain selain memang riwayat penyakit yang diderita umi. Kami pasrahkan sama Allah SWT dengan semua ini,” urai Rozi.

Hj NM (paling kanan) pemilik Rawon Nguling dan anaknya S (paling kiri) . Keduanya meninggal dan dinyatakan postif oleh Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo. Foto: dok/keluarga

Keluarga besarnya hanya tidak habis fikir, dengan hasil swab negatif untuk orang-orang yang justru dekat almarhumah dan punya riwayat kontak langsung. Padahal mereka tidak mengenakan APD ketika berada di dekat almarhumah dan almarhum saat masih hidup.

“Anehnya lagi, tujuh orang keluarga lain yang tidak kontak langsung, meski katanya positif sampai hari ini mereka sehat-sehat saja. Tidak ada penyakit yang mereka rasakan,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, dari 24 karyawan rumah makan dimaksud telah dilakukan swab usai pemiliknya Hj. NM dan anaknya S, meninggal dunia. Dari hasil swab ada tujuh terkonfirmasi positif COVID-19 dan menjalani perawatan.

Dihubungi terpisah, Juru Bicara Satgas covid-19 Kabupaten Probolinggo, dr Nanang Budi Joelijanto, tidak merubah statement. Menurutnya, Dua keluarga rumah makan di Tongas, yang meninggal terpapar covid-19 dan menjadi klaster baru di Probolinggo.

“Saya tidak merubah statement ya. Saya tidak pernah bilang keduanya meninggal karena Covid-19. Tapi keduanya memang terkonfirmasi positif corona dan sudah digelar di Propinsi Jawa Timur,” katanya. “Saya tidak mau ada statement lain. Sudah sudah sudah itu (statement yang sudah beredar sebelumnya) yang yang saya sampaikan sesuai hasil swab ya,” cetus Nanang.

Sayangnya, dr. Nanang tidak bersedia memberi alasan detail, mengapa keluarga yang pernah kontak langsung dengan kedua almarhum, justru tidak tertular.

Terpisah Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio mengatakan, belakangan ini, terdapat masalah manajemen pengambilan swab yang tidak dilakukan dengan benar. Masalahnya, yakni kondisi dan cara pengambilan sampel spesimen agar hasilnya benar-benar akurat.

Banyak kasus pengambilan swab hanya di ujung hidung karena tidak tersedianya kapas pengusap kecil yang bisa menjangkau sampai nasofaring. Kemudian masalah transportasi untuk pengiriman spesimen dari daerah ke laboratorium pusat. “Masalah transportasi ini menyebabkan banyak sampel hasilnya negatif. Semoga ini bisa diperbaiki ke depannya,” kata Amin, dilansir berita satu.

Amin mengatakan, dibutuhkan lebih banyak lab untuk melakukan pemeriksaan PCR. Teetapi perlu dicermati kembali apakah semuanya memenuhi persyaratan. Di satu sisi, PCR yang digunakan lab di Indonesia pun berbeda merek. Belum ada waktu buat pemerintah saat ini untuk melakukan validasi atau standarisasi dari mesin maupun reagen yang ditawarkan dari luar negeri. (eko/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar