Pendidikan & Kesehatan

Di Unesa, Purwatjaraka Ajak Eko Supriyanto Kolaborasi

Purwacaraka bersama Eko Supriyanto

Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendatangkan tiga putra terbaik Indonesia dalam seminar nasional seni pertunjukan di lantai empat gedung T13 Unesa, Sabtu (14/9/2019). Mereka adalah Purwatjaraka, musikus komposer dan Eko Supriyanto, koreografer dan penari ternama di dunia.

Dalam kesempatan itu, Eko Supriyanto menceritakan pengalamannya selama menjadi koreografer tingkat dunia dan terlibat dalam koreografi di pentas dunia. Penata koreografi di Opening Ceremony Asian Games 2018 itu mengatakan bahwa zaman sekarang meski tampak sulit untuk berkompetisi, namun banyak kemudahan yang bisa dinikmati. Bahkan menggapai cita-cita dan karir bisa lewat teknologi informasi komunikasi.

Menurut penari latar Madonna tersebut, dari kemudahan itu apa yang bisa diperbuat menjadi karya untuk negeri. Dalam pertunjukan tari, musik dan seni lainnya, ide serta informasi yang melimpah saat ini serba memudahkan. Sehingga tinggal pilih mana yang bagus, mana yang bisa menjadi gagasan dalam berkarya. “Menghadapi revolusi industri ya dengan memperbanyak karya,” tegasnya.

Purwatjaraka, musikus, komponis dan pencipta lagu itu banyak berbagi pengalamannya mulai kecil hingga menjadi profesional sekarang. Ternyata, dia menempuh itu sejak kecil dan mengawali karir profesional sejak umur 18 tahun. “Saya begini kan sejak kecil belajar dan bermain musik. Makanya apa yang saya lakukan dulu, saya petik hari ini,” ujarnya.

Dia mempertegas bahwa era sekarang adalah era persaingan. Maka menjadi generasi muda harus pandai menangkap peluang, apa yang bisa dibuat menjadi lahan bisnis. Lahan apa yang bisa menjadi gagasan dan karya.

“Ide dan profesional dalam tari maupun musik itu lahir dari hati yang menyatu dengan bidang apa yang kita tekuni, sehingga musik itu seakan bisa berbicara dengan kita, sehingga tarian itu bisa berbicara tentang pesan-pesan kemanusiaan kepada masyarakat banyak,” tambahnya.

Nanang Arizona, praktisi seni dari Yogyakarta mengatakan bahwa di tengah kemajuan saat ini, milenial masih memiliki banyak peluang. Peluang itu ada pada teknologi yang ada dalam genggaman, tinggal pemanfaatannya. “Apakah mendukung mimpi dan cita-cita atau tidak? Apakah itu mendukung kita dalam berkarya atau tidak,” tukasnya.

Dalam penyampaian materi, audiens banyak terhibur. Suasana ruangan khas orang seni. Tidak terlalu formil, namun mengalir. Terlebih dalam ruangan itu, Purwatjaraka dan Eko Supriyanto berkolaborasi. Purwacaraka unjuk skill musiknya, sementara Eko Supriyanto mengeluarkan kemampuan tarinya.

Dekan FBS Dr Trisakti, M.Si mengatakan, harusnya acara itu bukan seminar nasional. Namun menjadi seminar internasional. Sebab pembicara yang hadir adalah orang-orang yang sudah malang melintang di pentas dunia. “Semoga ini menjadi inspirasi buat kita semua untuk terus berkarya dan membanggakan bangsa di mata dunia, kita bisa, generasi Indonesia punya kelebihan itu, mari kita tunjukan kepada dunia,” ujar Trisakti. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar